Opini  

Sahabat Jalanan, Solidaritas Tanpa Batas

Master Max
Mohammad Khairul Umam

Menjadi sahabat bukan sebatas mencari yang sempurna. Sahabat sejati itu senantiasa saling melengkapi dari ketidaksempurnaan.

Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, pasti merasakan pahit dan manisnya kehidupan. Jika hanya berbuat sekali kesalahan jangan lantas kau lepas seperti sampah jalanan.

DLH Pamekasan

Waktu itu 24 jam, setiap detik dan menit angka-angkanya berbeda. Nasib dan napas ini tidak ada yang tahu berada di angka yang mana. Cukup Tuhan yang menjadi Hakim Mahaadil. Jalani dan nikmati. Karena apa yang sudah terdesain tidak akan berubah tanpa kehendak-Nya.

Tetaplah fokus pada kualitas diri, tidak usah risih ketika ada cacian. Jangan hanya menghitung salahnya namun jangan lupa jasanya. Berlian tetap berlian, dan beling tetap beling meskipun keduanya sama-sama bersinar.

Tetaplah sejuk di tempat yang panas, tetaplah manis di tempat yang pahit, tetaplah tenang di tengah badai yang menghantam. Tetaplah merendah meskipun berada di ketinggian. Tetap membumi meski langit kau sudah kuasai.

Jangan jemawa ketika menggenggam langit,  karena langit hanya persinggahan sesaat, karena langit bukan tempat berteduh, langit hanya cerita sesaat, langit hanya permainan wayang, permainan yang bisa melupakan rumah asal.

Di langit, pemerannya bisa mudah berubah. Jadi tetaplah ingat bahwa kita hanya sebagai wayang yang harus selalu siap tergantikan. Berpasrahlah Karena Sang Dalang sudah punya skenario terbaik yang dengan mudah membangun dan meruntuhkan.

Sahabat Jalanan (SJ) sengaja digagas sebagai sebuah pemikiran tentang kualitas pertemanan. Mengadopsi kata dari sahabat jalanan; “Buang jauh-jauh rasa tidak pernah cukup”.

Saya sedikit tergugah karena kata-kata ini seakan mengingatkanku yang selalu rakus dan lebih mengutamakan isi perut. Saya baru sadar ternyata di lemari ada ratusan pakaian, akhirnya saya berpikir kenapa diri ini terlalu sempit dan masih merasa kurang.

Bukankah masih banyak di luar sana yang tetap bahagia meskipun hanya memiliki sehelai pakaian. Mirisnya lagi, ketika hanya berpikir bagaimana tangan kaki ini selalu dihiasi sepatu dan jam tangan. Padahal di luar sana masih banyak yang bersyukur meski tidak memiliki tangan. Tetap tersenyum meski jalannya timpang. Masih bersyukur meski hanya bertahan hidup dengan sisa makanan.

Terbanglah tanpa harus mentuhankan sayap. Mendakilah tanpa harus mentuankan  akal. Berjalanlah tanpa harus mengejar bayangan. Terkadang terjatuh itu perlu, agar kita tahu siapa yg mengulurkan tangan dan bertepuk tangan.

Baca Juga:  Kebijakan Lokal dan Akselerasi Pendidikan

Dalam dunia jalanan tidak ada istilah sampah. Di dunia jalanan semua saudara, tidak ada istilah suci, karena kita hanya berbeda dalam memilih dosa.

Semangat sahabat! Berlian itu bukan soal tampilan namun ketulusan. Berlian itu itu bukan soal angka nominal namun sebuah nilai dan keikhlasan.

Kita sama-sama memiliki jatah jatuh dan terbang. Jatah kita sama-sama 24 jam, siang dan malam. Punggung kita sama-sama ada di belakang, mata kita sama-sama ada di depan. Roda itu akan terus berputar. Atas bawah hanya permainan pikiran. Bawah atas hanya pertarungan pikiran. Terbanglah tanpa harus mentuhankan akal.

Terbang tanpa sayap, tinggi tanpa merendahkan. Bersama seperti halnya arah angin, bersama tanpa rekayasa, bersama tanpa dusta, bersama tanpa memaksa, bersama karena kita 1 jiwa. Berputar seperti halnya jarum jam, berputar tanpa membedakan angka, berputar tanpa memandang kasta dan takhta.

Berjalan mengikuti arus, berjalan tanpa terbawa arus. Ciptakan arus sebelum tergerus. Tinggalkan zona aman dan nyaman, karena sejatinya zona nyaman itu adalah racun yang melumpuhkan pikiran. Saatnya bermetamorfosis, karena tidak selamanya ulat akan jadi ulat.

Jika kebaikan itu harus dibalas kebaikan, itu bukan kebaikan tapi namanya lapak dagangan. Jika kebaikan itu harus diperhitungkan, itu bukan kebaikan tapi namanya cari keuntungan. Kebaikan itu bukan kalkulasi, kebaikan itu dari hati, biarkan kebaikan itu tumbuh tanpa harus diarahkan, tanpa polesan, tanpa pujian, tanpa penghormatan.

Ingat, meskipun luasanya lautan banyak sampah yang berserakan namun yakinkan jika di dalamnya ada mutiara yang terpendam.

Jika ada pertanyaan, sampai kapan dan apa nikmatnya hidup di jalanan, jawaban saya cukup sederhana, sampai Tuhan memanggilku pulang.

Soal nikmat, saya tidak bisa menjabarkan secara akal, karena di jalanan pakai hati bukan akal, jadi tidak bisa diakali, tulus tanpa modus. Nikmatnya hidup di jalanan tidak bisa dihitung, karena di jalanan tidak pakai rumus angka.

Dunia jalanan bisa dinikmati ketika kita tidak membeda-bedakan teman, tidak melihat angka dan profesi, dan terpenting hidup di jalanan tetap ingat arah pulang, ingat rumah asal. Ingat dari apa kita diciptakan. Biarkan kami berkreasi tanpa harus dipuji.

Satu rumah tiga kamar, sudut pandang saya dalam menghadapi perbedaan. Sebagai sahabat sejati kita saling menguatkan bukan menjatuhkan. Karena kualitas dalam rumus komunitas lebih baik 9×100 daripada 100×9. Lebih baik sedikit sahabat tapi komitmen dan berkualitas daripada ratusan namun hanya gudang kosong.

Baca Juga:  1 Atau 2? Biarlah Waktu yang Menentukan

Kenapa saya ingin banyak bergaul dengan siapa pun, karena bagi saya setiap orang memiliki masa-masa manis dan pahit. Memiliki  masa-masa ketika terjatuh dan bangkit. Maka dari itu saya tidak pernah membuat jarak dengan siapa pun, meski dia dikatakan sampah jalanan.

Tulus dan Sebuah Ketulusan

Begitu cepat dan tanpa terasa sudah lima tahun berjalan mengenalmu. Begitu cepat pula perpisahan ini. Nama dan kepribadianmu begitu serasi, Tulus Subagio. Di Master Max, kamu lebih dikenal sosok pendiam, ramah dan murah senyum.

Posisi sebagai bendahara umum sangat sesuai dengan namamu, penuh ketulusan. Karena selama menjabat tidak pernah memegang keuangan, bahkan selama tiga tahun berjalan Master Max tidak ada tanggungan piutang.

Pengorbananmu membesarkan Master begitu terlihat ketika deklarasi pertama pada tanggal 9 Maret 2019–momen itu dikenal dengan nama (939).

Bahkan sejarah perjuangan Master saat menggagas di Kapal Jodoh, begitu bersemangat dan betkomitmen menjadi sahabat sehati, menjadi sahabat tanpa tekanan dan paksaan. Solidaritas tanpa batas. Menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan.

Master sudah berjalan dan terus berkembang, sebentar lagi Anniversary. Biasanya kamu selalu hadir bersama istri, namun sebelum ulang tahun berdirinya yang ke-3 ini, kamu sudah pulang duluan.

Sesuai sudah dengan perjalanan Master, pada Anniversary tahun ini master sudah kehilangan tiga orang terbaik; Mas Benny M-066 dan H. Agus M-071.

Maafkan saya bang, Master belum bisa memberikan yang terbaik pada detik-detik kepulanganmu. Tidak tahu saat dirimu kecelakaan, bahkan tidak ada kabar jika dirimu menahan kesakitan sendirian. Tidak tahu saat bolak-balik dari rumah sakit berjuang dalam menahan kesakitan.

Maafkan juga karena ketidaktahuan kami sehingga tidak bisa terlibat saat mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhirmu…. Allahumma Firlahu, semoga surga firdaus tempat terbaikmu.

Namamu akan selalu dikenang di dunia jalanan. Ketulusanmu akan selalu terhias di sekolah jalanan. Senyumanmu akan tetap abadi di hati para Master. Selamat jalan sahabatku, Tulus Subagio NRA M-008.

Saya, kami, para Master pasti akan menyusulmu, tinggal menunggu giliran dan waktu.(*)

18 Januari 2022. Salam membuM1


*Penulis Mohammad Khairul Umam Dosen & Ketua Umum Master Max Community