Tadarus Wayang Santri, Langkah Canggih Lesbumi Jember Lestarikan Warisan Budaya Nusantara

Wayang Santri
(Dok. Fandrik Ahmad) Lesbumi Jember mengadakan Tadarus Wayang Santri, Kamis (24/11/2022).

Jember — Lesbumi PCNU Jember sukses menggelar Tadarus Wayang Santri bersama Ki Dalang Ompong Sudarsono dari Temanggung Jawa Tengah, Rabu (23/11/2022). Acara ini bekerja sama dengan Pesantren Nurul Islam (Nuris) Jember.

Turut hadir dan menyaksikan acara tersebut yaitu Ketua Lakpesdam PBNU Gus Ulil Abshar Abdalla, didampingi KH. Muhyidin Abdussomad selaku pengasuh Pesantren Nuris Jember. Kedua kiai kharismatik itu tampak senang dan bangga melihat santri di era milenial antusias belajar warisan budaya nusantara.

DLH Pamekasan

“Wah, bagus ini; anak-anak bisa dalang kisah-kisah Islam,” tutur Kiai Muhyidin.

Sementara itu, Gus Ulil turut menjajal bagaimana menjadi dalang. Namun, karena tidak terbiasa, ia hanya memegang satu wayang dan memandang wayang yang lain sambil senyum senang.

Baca Juga:  Rayakan Harlah NU ke-98, Lesbumi Jember Potong Tumpeng dan Diskusi Budaya

Acara yang dilaksanakan di Aula SANI MI Nuris tersebut dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama untuk jenjang SMP-SMA dan sesi kedua buat jenjang MI.

Semua santri tampak terkesima melihat pertunjukan wayan Ki Dalang Ompong Sudarsono. Tidak hanya itu, dia juga memberikan ruang kepada santri belajar menjadi dalang.

“Saya sangat bahagia melihat anak-anak rebutan ingin pegang dan main wayang. Saya ikhlas, meski wayang rusak pun tidak jadi soal. Wayang bisa dibuat, tapi transformasi pengetahuan jauh lebih penting,” ujarnya.

“Ngaji Seni Wayang sebagai Jalan Dakwah Lewat Budaya di Era Digital” merupakan tema yang diusung. Diawali dengan penampilan pembuka Grup Musik Kolaborasi Hadrah dan Gamelan, Nuris Van Java dan dilanjutkan pembacaan puisi oleh Muhammad Lefand dari Lesbumi PCNU Jember.

Baca Juga:  Pagar Nusa Jember Konsisten Bela NU

Ketua Lesbumi PCNU Jember Siswanto mengungkapkan pentingnya warisan budaya bangsa untuk dilestarikan bersama.

“Santri harus mengerti, mengenali, dan melestarikan seni wayang di tengah arus modernisasi yang kian pesat. Berdasarkan pemikiran panjang, kita akhirnya menggelar Tadarus Wayang ini,” tambahnya. (**/nam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *