PERIODE II

Jadi Incaran Pengusaha, Ini Keuntungan dan Kerugian Buka Usaha di Sekitar Kampus

Media Jatim
Usaha dekat kampus
(Helmi Yahya) Salah satu usaha warung kopi yang berdiri di sekitar Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan.

Bangkalan — Membangun usaha di sekitar perguruan tinggi kini tengah menjadi incaran para pengusaha. Mulai dari bisnis angkringan, cafe, rumah kos, kontrakan, laundry, dan lainnya.

Mengapa demikian? Sebab, mendirikan usaha di dekat kampus, pangsa pasarnya sangat jelas, yaitu mahasiswa yang menempuh kuliah di kampus tersebut.

Salah satunya seperti di Universitas Trunojoyo Bangkalan (UTM). Membangun bisnis di sekitar kampus yang memiliki jumlah mahasiswa hingga 14.000 orang itu berkesempatan meraup keuntungan yang sangat besar.

Seorang pemilik warung kopi di sekitar UTM, Moh Hanafi, mengungkapkan, warung selalu ramai dari mahasiswa. Apalagi saat musim penerimaan mahasiswa baru tiba, keuntungannya bisa berlipat ganda.

“Panennya saat penerimaan mahasiswa baru, hampir semua warung kopi, cafe, dan warung makan penuh dengan mahasiswa,” jelasnya kepada mediajatim.com, Kamis (12/1/2023).

Baca Juga:  Mahasiswa KKN UTM Ciptakan Energi Listrik Alternatif dari Limbah Tahu

Namun, kata Hanafi, yang namanya usaha pasti ada pasang surutnya, tidak pasti selalu meraih omzet yang berlimpah. Sebut saja, ketika libur semester, warung miliknya sepi dari pelanggan.

“Momen ini kadang yang bikin pengusaha berpikir dua kali, karena dalam satu tahun liburnya cukup banyak, apalagi saat bulan puasa,” paparnya.

Dia juga bercerita bahwa modal untuk membangun bisnis warung kopi juga cukup besar, sekitar Rp50 hingga Rp100 juta.

“Kalau konsepnya angkringan, modal Rp100 jutaan cukup,” ujarnya.

Menurut Hanafi, biaya kontrak tanah yang cukup mahal karena sudah banyak peminatnya. Akan tetapi, potensi balik modal hanya membutuhkan waktu satu tahun.

Suka dan duka berbisnis di sekitar kampus juga dirasakan oleh Nur Ainiyah, pemilik usaha rumah kos. Perempuan yang kini memiliki rumah kos 30 kamar itu mengatakan, usahanya sangat menjanjikan.

Baca Juga:  Dinsos P3A Sumenep Bakal Pakai DBHCHT Rp 2,8 Miliar untuk BLT Buruh Tani dan Pabrik Rokok

“Untungnya lumayan besar,” ucapnya, Kamis (12/1/2023).

Disebutkan, modal awal Aini membuka kos-kosan sekitar Rp1 miliar lebih. Namun, hanya membutuhkan dua tahun untuk balik modal.

“Saya mulai buka tahun 2015, tahun 2017 sudah balik modal, sekarang hanya menikmati keuntungan,” papar Aini.

Akan tetapi, dia masih mengeluh dengan pengeluaran bulanan rumah kos yang besar, seperti uang listrik dan air. Apalagi kalau sudah berkenaan dengan perbaikan sarana dan prasarana.

“Karena tentu sarana prasarana juga perlu diganti, fasilitas air dan juga listrik juga besar. Tapi, syukurnya masih sebanding dengan keuntungan yang didapat hingga puluhan juta,” terangnya. (hel/zul)