Efek Perubahan Iklim, Petani Garam di Sumenep Gagal Panen

Media Jatim
Petani Garam
(Dok. PT Garam Sumenep) Aktivitas buruh garam di area pegaraman Sumenep I di Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep.

Sumenep, mediajatim.com — Pada tahun 2022 lalu petani garam di Sumenep mengalami gagal panen. Hal itu berdampak pada persediaan garam tahun ini.

Ketua Forum Petani Garam Madura (FPGM) Ubaid Hayat mengatakan, stok garam di gudang penyimpanan milik petani garam di Sumenep tahun ini mengalami penurunan.

Apabila cuaca normal, lanjut Ubaid, satu musim para petani bisa memperoleh garam sekitar 380 ribu ton. Sedangkan pada tahun 2022 kemarin, produksi garam hanya mencapai sekitar 15 ribu ton.

“Hal ini terjadi karena pada tahun 2022 kemarin para petani garam gagal panen,” ungkapnya kepada mediajatim.com, Jumat (5/5/2023).

Baca Juga:  Kepsek dan Guru yang Selingkuh di Sumenep Akan Diberhentikan Sementara

Ubaid menerangkan, kegagalan penen tersebut disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu. Pada tahun 2022, musim kemarau sangatlah pendek. “Sehingga produksi garam menjadi sangat tidak maksimal,” terangnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Pinggir Papas itu juga menyampaikan, menipisnya persediaan garam tahun ini sejatinya juga dialami oleh PT. Garam, jadi bukan hanya terjadi pada petani lokal.

Corporate Communication PT. Garam Sumenep Miftahol Arifin membenarkan bahwa saat ini stok garam di gudangnya memang terbatas.

“Tahun 2022 kemarin produksi garam hanya mencapai 64.774 ton. Biasanya kalau cuaca normal, hasil produksi garam bisa mencapai 100 ton per hektar, sehingga total panen dalam satu musim bisa mencapai 350 ribu ton sampai 400 ribu ton pertahunnya,” jelasnya, Jumat (5/5/2023).

Baca Juga:  Dinas Pendidikan Sumenep Rayakan HUT Kemerdekaan ke-78 RI dengan Pawai Sepeda Hias¬†

Direktur Walhi Jawa Timur Wahyu Eka Setiawan menerangkan, cuaca yang tidak menentu di Sumenep itu sejatinya merupakan bagian dari perubahan iklim yang saat ini terjadi secara global.

“Selama tiga tahun ini, Indonesia memang mengalami anomali cuaca. Sehingga membuat cuaca menjadi tidak menentu,” ujarnya, Jumat (5/5/2023).

Maka dari itu, kata Wahyu, gagalnya panen para petani garam di Sumenep, sebenarnya juga merupakan efek dari perubahan iklim.(mj11/faj)