Menjawab Tanya (?) Mengapa Kita Harus Membaca Berita

Media Jatim
Ongky Arista UA
Ongky Arista UA

John McCain, senator Amerika Serikat, sempat menjadi tawanan perang selama lima tahun enam bulan di Hoa Loa, Hanoi, Vietnam pada 1969.

Kala itu, dia mengikuti misi perang panjang ke Vietnam. Jet tempur yang dia terbangkan tertembak dan jatuh di Danau Truc Bach Kota Hanoi. Dia ditangkap pasukan Vietnam dan dipenjara.

Dalam biografinya dia menulis, selama berada dalam tawanan pasukan Vietnam, yang paling dia rindukan bukan hiburan, makanan, kebebasan atau bahkan keluarga dan teman.

“Hal yang paling saya rindukan adalah informasi, bebas sensor, tak terdistorsi, dan jumlahnya melimpah,” kata McCain dalam bukunya, Faith of My Father, 1999.

Bukan hanya bagi McCain, tetapi memang pada dasarnya manusia memiliki naluri untuk selalu ingin tahu sesuatu–ingin mengonsumsi informasi atau berita–tanpa sensor, tanpa distorsi dan jumlahnya sangat banyak.

Kita tentu tidak ingin mengetahui sesuatu hanya setengahnya atau seperempatnya. Kita pasti ingin membaca informasi dengan utuh, sekali lagi, tanpa sensor dan tak terdistorsi.

Tetapi bagaimana jika informasi atau berita datang tersensor, terdistorsi bahkan aliran berita tersumbat dan kita tidak bisa menikmatinya?

Mitchell Stephens, dalam bukunya, History of News, 1988, mengatakan bahwa ketika berita lenyap dari dunia ini, aliran berita tersumbat, maka kegelapan akan datang dan kecemasan akan berkembang menggerogoti masyarakat.

Baca Juga:  Berdamai dengan Raperda Reforma Agraria DPRD Sumenep (?)

Saya mengutip McCain dan Stephens untuk menjelaskan fungsi berita untuk kita. Bahwa sebuah berita hadir untuk memenuhi kebutuhan manusia agar lepas dari kegelapan dan kecemasan.

Manusia, kata Harvey Molotch, dalam bukunya, News as Purposive Behavior, 1974, pada dasarnya memiliki naluri untuk mengetahui apa yang terjadi di luar pengalaman dirinya untuk menghadirkan rasa aman, kontrol diri dan percaya diri.

Kita memang tidak bisa menakar rasa aman bagi diri kita sendiri sebelum kita mengetahui informasi tentang apa saja yang membahayakan di lingkungan tempat tinggal kita.

Kita juga tidak bisa mengontrol diri sebelum kita mendapat informasi apa saja yang harus dihindari saat memasuki sebuah wilayah, dan kita tidak bisa percaya diri sebelum kita mendapatkan berita tentang siapa saja yang akan kita hadapi.

Kita juga bisa membayangkan langsung misalnya suatu pagi saat kita duduk di kursi teras rumah sambil menyeruput kopi, lalu, tiba-tiba muncul sebuah berita bahwa 20 kilometer dari tempat kita tinggal terjadi perampokan dan 10 orang tewas dalam insiden ini.

Baca Juga:  Ada Kutukan di Pilbup Sumenep (?)

Maka kita secara naluriah akan menelepon sanak saudara yang ada di lokasi untuk mengamankan diri, dan mengontrol sanak famili lain untuk berhati-hati agar tidak melintasi daerah tersebut.

Tetapi bayangkan jika kita tidak membaca berita itu? Kita barangkali tidak akan mampu menakar dan menghadirkan rasa aman untuk diri kita sendiri, keluarga kita dan orang-orang di sekitar kita.

Benar kata Stephens, bahwa ketika berita lenyap dari dunia ini, aliran berita tersumbat, maka kegelapan akan datang dan kecemasan akan berkembang menggerogoti masyarakat.

Akan selalu ada kecemasan dan kegelapan saat kita tidak mengetahui apa-apa. Jadi, berita atau sebuah informasi ibarat lampu penerang di tengah gelap. Tanpanya, kita tidak bisa melihat situasi bahkan diri kita sendiri.

Begitulah berita dibutuhkan; berita yang akurat; berita yang benar; dan yang tidak terdistorsi, untuk memetakan rasa aman, sikap, dan jalan kita sendiri ke depan.(*)

_____
*Ongky Arista UA, Pemred Media Jatim sekaligus Ketua Forum Wartawan Pamekasan.