Di Puncak Dies Natalis ke-22, Mahfud MD Sebut Alih Status Unibang Jadi UTM karena Keinginan Gus Dur

Media Jatim
UTM
(Dok. Humas UTM) Rektor UTM Safi' saat memberikan cendera mata pada Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Republik Indonesia Mahfud MD di Gedung RP Mohammad Noer UTM, Jumat (7/7/2023).

Bangkalan, mediajatim.com — Universitas Trunojoyo Madura (UTM) merayakan acara puncak Dies Natalis ke-22 dengan menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) RI Mahfud MD, Jumat (7/7/2023).

Mahfud MD diundang oleh UTM untuk mengisi orasi ilmiah dengan tema “Semangat Kebangsaan, Eratkan Persatuan Menyongsong Pemilu 2024 Jujur dan Adil” di Gedung RP Mohammad Noer, kampus setempat.

Rektor UTM Safi’ mengatakan, rangkaian acara Dies Natalis ke-22 ini terdiri dari 17 kegiatan. Sementara untuk acara utamanya adalah Rapat Terbuka Senat yang diisi orasi ilmiah oleh Menko Polhukam RI.

“Kami memulai acara Dies Natalis UTM sejak pertengahan Juni 2023. Beberapa kegiatan yang telah berlangsung, yakni khatmil Al-Qur’an, santunan anak yatim, serta mutiara hikmah dari Buya Yahya. Kegiatan ini akan berlanjut hingga akhir Juli 2023 nanti,” ungkapnya saat sambutan, Jumat (7/7/2023).

Lebih lanjut Safi’ menyampaikan, UTM yang sudah berusia 22 tahun ini merupakan kelanjutan dari Universitas Bangkalan (Unibang) yang berdiri pada tahun 1981. 20 tahun berikutnya, tepatnya pada tahun 2001, Unibang diubah statusnya menjadi kampus negeri dengan nama Universitas Trunojoyo Madura.

Baca Juga:  Imbang Lawan Arema, RB Sebut Penyelesaian Akhir Masih Jadi PR Madura United

“Perubahan status itu, tidak lepas dari peran Menko Polhukam Pak Mahfud MD. Meski saat itu dia menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI, Pak Mahfud yang mengurusi perubahan status Unibang menjadi UTM,” jelasnya.

Kehadiran Menko Polhukam RI ke UTM ini, ucap Safi’, seolah sudah menjadi takdir. “Jadi kalau UTM mau maju, jangan pernah melepaskan diri dari Pak Mahfud MD,” tuturnya.

Menko Polhukam RI Mahfud MD memaparkan bahwa perubahan Unibang menjadi UTM dulu karena keinginan dan persetujuan KH. Abdurrahman Wahid yang pada waktu itu menjabat Presiden RI.

“Saya sampaikan ke Pak Presiden, kalau di Madura ada kampus namanya Unibang, gedungnya masih kalah jauh dengan SMA di Jawa. Meski pada waktu itu memang belum memenuhi syarat secara teknis untuk alih status, tapi Gus Dur tetap mendukung,” terangnya, Kamis (7/7/2023).

Baca Juga:  2 Joki Balap Liar di Bangkalan Diringkus Polisi, Terancam 1 Tahun Penjara

Permohonan alih status Unibang menjadi UTM, kata Mahfud, akhirnya diajukan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB), lalu Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Hasil pengajuan permohonan tersebut, lanjut Mahfud, ternyata tidak disetujui dengan berbagai alasan.

“Saat tidak disetujui oleh tiga menteri itu, saya menyampaikan bahwa Unibang memang belum memenuhi syarat. Tapi kata Gus Dur, kalau orang Madura disuruh memenuhi syarat itu ya tidak bisa. Jadi waktu itu Gus Dur langsung meneken Kepresnya,” jelasnya.

Kata Mahfud, begitulah cerita proses peralihan Unibang menjadi UTM. “Kampus ini didirikan untuk memfasilitasi masyarakat Madura agar memiliki kampus negeri. Jadi kampus ini harus berkembang di lingkungan Madura yang mayoritas pesantren. Karenanya, UTM harus memiliki kecocokan dengan kearifan lokal Madura,” tuturnya.

Jika UTM ingin maju, ucap Mahfud, maka harus melindungi dan memfasilitasi masyarakat hingga bisa maju dan berkembang di tanah kelahirannya sendiri.(hel/faj)