Penjual Sate di Sampang Diduga Keracunan Es Campur, Suami Meninggal dan Istri Masih Dirawat

Media Jatim
Sampang Hari Ini
(Dok. Tribun Bali) Gambar hanya ilustrasi es campur.

Sampang, mediajatim.com — Peristiwa nahas menimpa pasangan suami istri (pasutri) di Kabupaten Sampang bernama Syaifuddin (37) dan Siti Romlah (34), Rabu (12/7/2023).

Dua warga Desa Banjar, Kecamatan Kedungdung itu dilarikan ke Puskesmas Tambelangan usai mengonsumsi es campur, Rabu (12/7/2023) sore.

Berdasarkan informasi yang diperoleh mediajatim.com, peristiwa tersebut berawal saat Syaifuddin bersama iparnya, Zahri, menonton sepak bola di salah satu lapangan di Kecamatan Tambelangan.

Saat hendak pulang, sekitar pukul 17.00 WIB, korban kemudian mampir ke sebuah warung di dekat lapangan sepak bola untuk membeli es campur dan rujak pesanan istrinya.

Setelah sampai di rumah, korban langsung membuka plastik dan memakan es campur bersama sang istri.

Baca Juga:  5 Tahun Nakhodai Sampang, Slamet Junaidi Tekan Angka Stunting hingga 6,9 Persen

Tidak sampai habis es tersebut, korban lalu menyantap rujak, dan tiba-tiba tangannya gemetar dan perutnya mules.

Syaifuddin juga merasa mual namun tidak sampai muntah, lalu beberapa detik kemudian tubuhnya lemas dan tidak sadarkan diri.

Di waktu yang sama, hal serupa juga dialami oleh istrinya, Siti Romlah. Beruntungnya, dia masih sadar dan bisa berteriak memanggil Zahri dan kerabat dekatnya untuk membawa suaminya ke Puskesmas Tambelangan, Rabu (12/7/2023) sekitar pukul 19.50 WIB.

Kanit Reskrim Polsek Tambelangan Bripka Nasrun Wijaya mengatakan bahwa nyawa Syaifuddin tidak tertolong meskipun sempat diberi oksigen dan perawatan medis.

Baca Juga:  Kopri PMII Sampang Sebut Kinerja Dinsos P3A Buruk Tangani Kasus Pelecehan Seksual di Bawah Umur

“Untuk istri korban, Siti Romlah, langsung dirujuk ke RSUD dr. Muhammad Zyn Sampang, dan hingga saat ini masih menerima perawatan medis, namun sudah lumayan membaik,” ungkapnya kepada mediajatim.com, Kamis (13/6/2023).

Nasrun menambahkan, pasutri tersebut sudah  berencana untuk kembali ke Solo berjualan sate, Jumat (14/7/2023).

Namun apa daya, musibah menimpa mereka dan menggagalkan segala rencana.

“Informasi terakhir, keluarga korban menolak untuk dilakukan autopsi kepada jenazah korban sebab mereka menerima peristiwa ini sebagai musibah, tidak lebih,” pungkasnya.(rif/ky)