PERIODE II

Cerita Nafada: Puteri Pemberdayaan Perempuan Jawa Timur 2023 yang Bangkit dari Bullying!

Media Jatim
Nafada Puteri Pemberdayaan Perempuan Jatim 2023
(Dok. Media Jatim) Nafada Safaatul Ummah bersama kedua orang tuanya saat penobatan Puteri Pemberdayaan Perempuan Jawa Timur pada Januari 2023 lalu.

Pamekasan, mediajatim.com — Aksi bullying kerap terjadi di lingkungan sekolah. Dilakukan oleh siswa yang merasa lebih “berkuasa” kepada siswa yang lemah.

Dan korban bullying tidak mengenal siswa atau siswi. Semua dari mereka bisa jadi korban–pun jadi pelaku.

Efek bullying pun bermacam-macam. Bisa positif jika korban mampu bangkit, dan bisa negatif jika korban gagal bangkit.

Dan, salah satu siswa korban bullying yang mampu bangkit dan kini mendulang sejumlah prestasi itu bernama Nafada Safaatul Ummah.

Perempuan yang dinobatkan sebagai Puteri Pemberdayaan Perempuan Jawa Timur Tahun 2023 pada Januari lalu itu pernah menjadi korban perundungan sejak duduk di bangku Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pamekasan.

“Saya jadi korban bullying selama dua tahun, dari saya kelas dua,” ungkapnya kepada mediajatim.com Senin (23/10/2023).

Dia mengatakan, bahwa dirinya pernah dimusuhi oleh hampir seluruh teman kelasnya. Bangkunya kerap dicorat-coret, helmnya diludahi dan dituduh suka mencari muka karena sering dipuji guru.

“Saat itu, saya pernah kepikiran untuk berhenti sekolah. Tapi akhirnya saya tahu, alasan mereka begitu karena saya dari desa tapi sering dipanggil untuk ikut lomba,” tuturnya.

Putri pasangan Rahbini dan Hasmaniyah itu juga membeberkan, bullying yang menimpa dirinya sempat mengganggu kondisi mentalnya. Sampai-sampai dia berkonsultasi ke psikolog.

“Karena saya pernah ada di fase di mana saat saya ada di kamar tapi suara mereka yang ngatangatain saya itu terngiang-ngiang di telinga,” bebernya.

Bahkan, kata Nafada, pernah terbersit untuk mengadukan bullying itu ke pihak sekolah tapi dia urungkan karena teman-teman yang merundungnya lebih punya power karena mereka rata-rata dari keluarga berada.

“Saya hanya bisa curhat ke umi. Lalu beliau bilang begini, ‘Sabar, tunggu lima tahun ke depan, dan lihat mereka jadi apa dan kamu jadi apa.’ Dan benar-benar terbukti, Allah itu tidak tidur,” katanya.

Baca Juga:  Jatah 3 Ribu Ton Pupuk Subsidi Pamekasan Tahun 2023 Hangus

Gadis asal Desa Klompang Timur, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan itu perlahan bangkit. Membuang jejak-jejak perundungan di ingatannya. Menghapus goresan-goresan luka yang pernah mengganggu mentalnya.

Dia pun optimis bisa bangkit. Dia keluar dari zona pikir perempuan yang tinggal di desa pada umumnya. Dia melanjutkan kuliah ke Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

Sejak lulus dari MAN 2 Pamekasan tahun 2021, dia menjadi bersemangat mengasah potensi dirinya bahkan hingga di bangku semester 5 Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) saat ini.

“Saya ingin keluar dari zona ini. Saya berpikir wanita itu perlu pendidikan tinggi, butuh mengembangkan potensi, harus punya value dan pencapaian agar punya kehidupan yang lebih baik dan bisa menjadi role model untuk orang di sekitarnya,” paparnya.

Secara simbolik, Nafada mengartikan bahwa salah satu cara untuk melatih dirinya menjadi role model ialah dengan menjadi duta.

“Makanya saya sering ikut lomba-lomba duta, karena dari kecil saya memang suka ngomong. Kalau dibiarin kan sayang, makanya saya coba ikut lomba duta Generasi Berencana (Genre) Pamekasan meskipun saya pendek hanya sekitar 150, saya nekat saja,” ceritanya.

Untuk menjadi duta, gadis 20 tahun itu mengaku mempelajari banyak hal secara otodidak.

“Seperti public speaking, modeling, dan fashion saya belajar dari youtube lalu saya praktikkan sendiri. Tapi untuk public speaking saya belajar ke guru saat di MAN,” terangnya.

Selain menjadi duta, Nafada juga menjadi penerima beasiswa (awardee scholarship) Bank Indonesia. Beasiswa inilah yang membuat dia bisa melanjutkan kuliah ke UINSA.

Baca Juga:  Dikalahkan Madura, RD: Kita Kekurangan Pemain Tinggi

“Sebenarnya saya sudah tujuh kali gagal daftar beasiswa dan yang ke delapan kalinya saya baru keterima Beasiswa Bank Indonesia. Sempat hopeless, tapi saya tetap positive thinking dan saat itu saya berpikir saya harus kuliah sambil kerja. Tapi akhirnya lolos juga, ” ulasnya.

Dan puncaknya, tahun ini, Nafada dinobatkan sebagai Puteri Pemberdayaan Perempuan Jawa Timur Tahun 2023.

Kemudian, dia juga menjadi Duta Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA dan Duta Lingkungan Jawa Timur. Selain itu, dia juga aktif di berbagai organisasi di dalam dan luar kampus.

“Di momen saya terpilih menjadi Icon Puteri Pemberdayaan Perempuan Jawa Timur, saya melihat kedua orang tua saya terharu. Dulu mereka melihat saya menangis karena menjadi korban bullying, sekarang mereka menangis haru karena pencapaian saya,” ujarnya.

Selain sibuk menjadi duta, Nafada juga aktif di media sosial sebagai content creator dan influencer di beberapa platform.

Dari sinilah Nadafa memiliki pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup hingga mengirim uang untuk keluarganya di rumah.

“Kalau ditotal paling besar bisa sampai Rp9 juta sekian. Selain dari media sosial itu saya dapat juga dari honor sebagai narasumber atau jadi pembicara di sebuah event,” jelasnya.

Nafada mengatakan, seseorang bisa menjadi apa pun yang dia inginkan. Dari mana pun ia dan dari keluarga apa pun ia serta dari masa lalu apa pun ia.

“Walaupun hanya gadis desa dan berasal dari keluarga sederhana, kita tetap bisa bermimpi untuk merubah stigma masyarakat terhadap wanita. Kita harus punya value dan harus lebih mengenal diri sendiri lebih baik,” pungkasnya.(mj15/ky)