IMG-20240616-WA0023
IMG-20240616-WA0022
IMG-20240616-WA0001

Hipertensi Bisa Picu Penyakit Kronis, Berikut Penjelasan Dokter Spesialis Jantung RSUD Smart Pamekasan 

Media Jatim
Hipertensi
(Dok. YouTube RSUD Smart Pamekasan) Dokter Spesialis Jantung RSUD Smart Pamekasan dr. Vitriyaturrida saat menyampaikan materi tentang Hipertensi di acara webinar peringatan Hari Hipertensi Dunia, Jumat (17/5/2024).

Pamekasan, mediajatim.com – RSUD dr. H. Slamet Martodidjo (Smart) Pamekasan mengadakan Webinar Awam Kupas Tuntas Semua tentang Hipertensi di Ruang Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS), Jumat (17/5/2024).

IMG-20240615-WA0011
IMG-20240616-WA0002
IMG-20240615-WA0010
IMG-20240616-WA0003
IMG-20240616-WA0005

Kegiatan ini digelar juga untuk memperingati Hari Hipertensi Dunia di RSUD Smart Pamekasan.

IMG-20240616-WA0004
IMG-20240616-WA0007
IMG-20240616-WA0008
IMG-20240616-WA0006
IMG-20240616-WA0009

Hadir sebagai narasumber dalam seminar online ini, Dokter Spesialis Jantung RSUD Smart Pamekasan dr. Vitriyaturrida.

IMG-20240616-WA0017
IMG-20240616-WA0014
IMG-20240616-WA0018
IMG-20240616-WA0031
IMG-20240616-WA0024

dr. Vitri menjelaskan, hipertensi merupakan suatu kondisi di mana tekanan darah seseorang mengalami peningkatan hingga di atas normal, yakni 120/80 secara terus menerus.

Kata dr. Vitri, jangan pernah menyepelekan hipertensi. Karena penyakit ini juga bisa menyebabkan penyakit-penyakit kronis, seperti jantung, gagal ginjal dan stroke.

Baca Juga:  Museum Sumenep Tak Kebagian Dana Perawatan, Disbudporapar: Anggaran Hanya untuk Slopeng dan Lombang!

Lebih lanjut dr. Vitri menerangkan, jenis hipertensi ada dua, yakni hipertensi primer dan sekunder. “Hipertensi primer biasanya dialami oleh pasien usia senja,” ungkapnya, Senin (20/5/2024).

Masyarakat di usia senja bisa terpapar penyakit ini, lanjut dr. Vitri, karena pembuluh darahnya sudah tidak elastis. “Untuk penanganannya, kami biasa memberikan obat jenis Calcium Channel Blocker (CCB), seperti Amlodipine,” jelasnya.

Sementara untuk hipertensi sekunder, ujar dr. Vitri, biasanya dialami oleh pasien usia muda atau di bawah usia 35 tahun.

IMG-20240615-WA0017
IMG-20240615-WA0016
IMG-20240616-WA0026
IMG-20240616-WA0013

“Untuk penanganannya, kami biasanya memberikan obat jenis Angiotensin-Converting Enzyme (ACE), seperti Captopril, Lisinopril, Angiotensin II Receptor Blockers (ARB), atau Candesartan,” terangnya.

Apabila ada pasien hipertensi sekunder, tutur dr. Vitri, perlu dicurigai terkait adanya penyakit lain yang menyebabkan tekanan darahnya meningkat.

“Untuk pasien hipertensi usia muda, kami biasanya tidak terburu-buru memberikan obat. Karena perlu dicari tahu apa penyebabnya. Apakah ada gangguan pembuluh darah di ginjal, gangguan hipertiroid dan hormon, atau endokrin meningkat sehingga menyebabkan tensinya naik,” bebernya.

Baca Juga:  Jadi Mesin Gol Baru, Dalberto Luan Belo Bikin Madura United Move On dari Junior Brandao

Usai diketahui penyebabnya, ucap dr. Vitri, baru ditentukan obatnya untuk menstabilkan tekanan darahnya ke kondisi normal.

“Tekanan darahnya tetap harus di bawah 140/90. Yang perlu digarisbawahi, tensi penderita hipertensi tidak pernah normal, tapi bisa dikontrol dengan pengobatan sembari memperbaiki pola hidup,” imbuhnya.

dr. Vitri menambahkan, pasien hipertensi tidak boleh berhenti minum obat meskipun tekanan darahnya sudah kembali normal dalam waktu yang lama.

“Tidak boleh berhenti minum obat. Kurangi dosisnya saja, jika tekanan darahnya sudah normal,” paparnya.

Cara untuk menurunkan dosis obat, ujar dr. Vitri, ukur tensi darah pada pagi dan malam selama tiga hari dalam beberapa minggu sebelum kontrol ke dokter.

“Jika saat diukur tekanan darahnya di bawah 135/85, bisa dikonsultasikan ke dokter yang menangani untuk menurunkan dosis obat,” pungkasnya.(fit/faj)