IMG-20240616-WA0023
IMG-20240616-WA0022
IMG-20240616-WA0001

Atasi Baby Blues Syndrome pada Ibu Pascamelahirkan, Ini Penjelasan Psikiater RSUD Smart Pamekasan

Media Jatim
Syndrome
(Fitria M/Media Jatim) Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa RSUD Smart Pamekasan dr. Indriana Lestariningtias saat ditemui di Ruang Poli Sehat Jiwa setempat, Selasa (11/6/2024).

Pamekasan, mediajatim.com – Pascamelahirkan, umumnya seorang ibu akan bahagia dengan kehadiran sang buah hati. Namun tidak dengan ibu yang mengalami Baby Blues Syndrome.

IMG-20240615-WA0011
IMG-20240616-WA0002
IMG-20240615-WA0010
IMG-20240616-WA0003
IMG-20240616-WA0005

Diketahui, Baby Blues Syndrome merupakan kondisi di mana seorang ibu yang baru melahirkan mengalami depresi atau tekanan psikologis karena perubahan hormonal secara drastis.

IMG-20240616-WA0004
IMG-20240616-WA0007
IMG-20240616-WA0008
IMG-20240616-WA0006
IMG-20240616-WA0009

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo (Smart) Pamekasan dr. Indriana Lestariningtias menerangkan, sindrom Baby Blues biasanya terjadi pada usia persalinan satu sampai tiga hari.

IMG-20240616-WA0017
IMG-20240616-WA0014
IMG-20240616-WA0018
IMG-20240616-WA0031
IMG-20240616-WA0024

“Kondisi ini bisa membaik dengan sendirinya dalam jangka waktu paling lama dua minggu, seiring stabilnya hormon. Namun akan diperberat jika ada kondisi psikososial yang mendasari,” paparnya, Selasa (11/6/2024).

Baca Juga:  Nyaleg untuk Kedua Kali, Willy Aditya Dinilai Tak Berkontribusi untuk Madura

Sindrom ini, kata dr. Indri, mirip dengan gejala depresi, yaitu murung, mudah sedih, merasa kesal, malas beraktivitas, dan tidak mau mendekati bayinya.

“Ibu yang mengalami baby blues mudah merasa lelah, seperti hilang energi untuk beraktivitas. Sehingga mudah kesal bahkan benci saat merawat  bayinya. Kalau seperti ini sangat diperlukan support dari keluarga terdekat terutama suami,” ungkapnya.

IMG-20240615-WA0017
IMG-20240615-WA0016
IMG-20240616-WA0026
IMG-20240616-WA0013

Apabila ada ibu yang baru melahirkan dan mengalami sindrom ini, lanjut dr. Indri, lebih baik untuk tidak menyusui hingga kondisi psikis sang ibu benar-benar stabil.

“Anaknya diasuh oleh anggota keluarga yang lain dulu. Karena sangat berbahaya. Kita tidak tahu isi hatinya bagaimana, karena rasa kesal dan jengkel saat menyusui juga dapat memengaruhi psikis si bayi,” tuturnya.

Baca Juga:  Walhi Jatim Sebut Hasil Pantauan BPN Sumenep terhadap Lokasi Tambak Garam Gersik Putih Ngawur

Walaupun sindrom ini dapat membaik dengan sendirinya, tutur dr. Indri, namun sebaiknya dikonsultasikan kepada tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater.

“Apakah perlu obat? Nanti dilihat kondisinya, misalnya sampai tidak mau makan, malas beraktivitas, atau bahkan merugikan orang lain, maka perlu penanganan lebih lanjut salah satunya dengan terapi psikofarmaka,” terangnya.

Karena itulah, dr. Indri mengimbau kepada masyarakat untuk percaya bahwa Baby Blues Syndrome bisa benar-benar terjadi pada wanita khususnya yang baru melahirkan, sehingga sangat dibutuhkan dukungan dari suami atau keluarga terdekat.

“Perempuan itu sangat rentan mengalami depresi karena perubahan hormonal yang drastis. Hormon wanita sangat tidak stabil sehingga memengaruhi perubahan mood. Jika menemukan kondisi seperti ini jangan dikucilkan tapi dicari solusinya dengan konsultasi kepada tenaga profesional,” tutupnya.(fit/faj/**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *