PERIODE II

Cegah Kekerasan pada Anak, Dinsos P3A Sumenep Didik Siswa, Guru dan Wali Murid

Media Jatim
Dinsos
(Dok. Media Jatim) Kegiatan Sosialisasi Cegah Kekerasan terhadap Anak oleh Dinsos P3A Sumenep di SMAN 1 Ambunten, Rabu (12/6/2024).

Sumenep, mediajatim.com — Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Sumenep terus berupaya untuk mencegah kekerasan pada anak.

Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinsos P3A Sumenep Dwi Regnani mengatakan, kasus kekerasan pada anak selama ini cukup banyak, meski yang nampak dipermukaan hanya segelintir saja.

“Jadi berita tentang kekerasan anak merupakan bagian dari fenomena gunung es. Apa yang muncul di permukaan hanya sebagian kecil, sedangkan yang di bawah lebih besar,” ungkapnya, Rabu (19/6/2024).

Lebih lanjut Dwi menerangkan bahwa Dinsos P3A Sumenep menangani kekerasan pada anak dengan dua cara. “Pertama dengan pencegahan. Kedua dengan penanganan,” imbuhnya.

Baca Juga:  Pria di Sumenep Tega Perkosa Ponakannya Sendiri: Korban Sempat Diancam Akan Dibunuh! 

Untuk pencegahan, lanjut Dwi, Dinsos P3A Sumenep bekerja sama dengan lembaga pendidikan dan bersinergi dengan beberapa instansi pemerintahan.

Banner Iklan Media Jatim

“Yang jelas, kami tidak bisa sendirian. Kami butuh bantuan dari pihak lain, terutama lembaga pendidikan dan instansi pemerintahan yang lain,” bebernya.

Banner Iklan Media Jatim

Melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan, tutur Dwi, Dinsos P3A semakin mudah melakukan sosialisasi pencegahan kekerasan pada anak.

“Melalui kerja sama ini, kami telah memberikan pemahaman kepada siswa, guru dan orang tua tentang kekerasan terhadap anak dan bagaimana cara mencegahnya,” ucapnya.

Baca Juga:  DPW Partai UKM Jawa Timur Gelar Launching Inisiator Secara Virtual Bersama PKL dan Pelaku UMKM

Sementara untuk penanganan, lanjut Dwi, Dinsos P3A Sumenep melakukan pendampingan psikologi kepada korban.

“Biasanya kami juga memberikan arahan dan pembinaan terkait cara mengatasi trauma pada anak, lalu mencari tahu apakah hanya trauma pada psikisnya saja atau butuh pengobatan medis,” tuturnya.

Menurut Dwi, pendampingan psikologi pada korban kekerasan anak sangat penting. Karena akibat kekerasan, anak bisa mengambil jalan hidup yang tragis.

“Akibat kekerasan pada anak, khususnya perempuan, ada yang sampai memilih jalan hidup menjadi wanita penghibur. Dan yang paling fatal adalah bunuh diri,” pungkasnya.(mj2/fa/**)