NU, Garam yang Mewarnai Rasa

Gus Zen, sapaan akrabnya, mengibaratkan NU sebagai garam dalam masakan. Apapun menu masakannya, katanya, garam selalu hadir untuk melengkapi rasa. Garam tak perlu banyak, tapi sedikit saja sudah bisa mewarnai rasa. Tanpa garam, masakan dijamin hambar.

NU Jember Bersatu, Keniscayaan yang Tak Bisa Ditawar

Kiai Fathullah menambahkan, kegagalan demi kegagalan yang mendera NU dalam ajang Pilkada selama ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi warga Nahdliyin dan pengurus NU. Pengurus NU, katanya, adalah pihak yang punya otoritas untuk menyatukan simpul-simpul NU dalam satu barisan untuk mendukung satu jago dan memenangkannya.

Agar NU Tak Jadi Pendorong Mobil Mogok

Oleh karena itu, lanjutnya, NU harus bersatu, dan kompak dalam menghadapi Pilkada 2020. Jika NU tidak kompak, tentu itu menjadi salah satu alasan bagi bupati terpilih yang dijagokannya, untuk meninggalkan NU.

Koalisi Partai Berbasis NU Bisa Dicoba demi Kejayaan NU

Menurut Gus Zen, sapaan akrabnya, sesungguhnya keterbelahan suara warga NU bisa sedikit diatasi dengan ‘mengumpulkan’ partai-partai yang berbasis NU. Jika partai berbasis NU itu sudah bersatu dan sepakat mengusung satu calon, maka konstituennya lebih gampang disatukan dan diarahkan dalam satu barisan.