Muluskan Impor, Mafia-Pemerintah Aktori Kelangkaan Garam

Garam di Madura melimpah dan tidak terserap.
Garam di Madura melimpah dan tidak terserap.

MediaJatim.com-Front Pemuda Madura (FPM) mengendus isu kelangkaan garam sengaja digulirkan oleh pemerintah. Itu hanya modus untuk memuluskan rencana impor garam hingga 70 ton. Menteri Perdagangan (Mendag) RI Enggartiasto Lukita diduga kuat penjadi mafia utama permainan kelangkaan garam.

“Keputusan Menteri Perdagangan RI untuk impor garam, sungguh menyakitkan bagi para petani Indonesia. Alasan yang dibuat-buat bahwa garam langka, itu tidak mendasar. Sejak kapan garam langka? Jika ditelusuri di sentra-sentra garam pulau Madura, Lombok, dan Cirebon, justru garam petani belum terserap,” ungkap Asip Irama selaku Koordinator FPM.

Dalam fakta tersebut, tambahnya, Mendag Enggartiasto Lukita bertindak sebagai sales importir garam, bukan mewakili kepentingan bangsa. Ia menjadi fasilitator kejayaan mafia garam dan komuditas pangan lainnya, ia berdarah dingin membunuh nasib petani garam.

Baca Juga:  Masuk Pasar Pedotan, Babi Hutan Ini Dikira 'Ngepet'

“Kami mencurigai, ada cipta kondisi yang didukung mafia pangan untuk membuat garam langka. Masuknya garam impor, sama saja kemenangan bagi para mafia garam,” tekannya.

Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) RI Susi Pudjiastuti dinilai gagal melindungi nasib petani. Menteri Susi tak lebih baik dari menteri-menteri sebelumya. Jika menteri KKP sebelumnya tegas menolak impor garam dan petani terlindungi, justru di tangan Susi petani garam hancur.

“Sejak ia menjadi menteri, lebih banyak pencitraan dengan bakar-bakar kapal. Tapi saat bersamaan, dia berikan rekomendasi kepada Mendag RI untuk impor garam. Sama saja Susi memberi karpet merah pada mafia garam untuk berpesta. Susi dan bawahannya tak pernah mempunyai data akurat berapa kebutuhan garam dan tak punya program prioritas untuk membina petani garam,” sesalnya.

Baca Juga:  Ansor Kencong Mendapuk Bupati Hendy sebagai Anggota Kehormatan

FPM selanjutnya menuntut agar Direktur Utama dan Direktur Produksi PT. Garam dipecat. Kedua orang tersebut bertanggung jawab turut serta menghina petani. Pihaknya mendapat informasi akurat, saat baru diangkat menjadi Dirut PT. Garam, Doly Pulungan mengadakan pertemuan tertutup di sebuah hotel di Surabaya dengan perusahaan-perusahaan calon importir garam.

“Pertemuan tersebut menegaskan adanya cipta kondisi kelangkaan garam menuju impor dengan alasan yang dibuat-buat. Dirut garam layak dinobatkan sebagai boneka mafia dengan nama tenar pernah disebut dalam release Panama Papers. Demikian juga Direktur Produksi PT. Garam, telah gagal produksi garam dan gagal pula PT. Garam menjadi perusahaan penyangga kebutuhan garam nasional,” tegasnya.

Reporter: Zainal Arifin

Redaktur: Nur Aini

WhatsApp chat