Wartawan dan Tanggung Jawabnya

  • Bagikan

: Organisasi wartawan semakin banyak. Jumlah wartawan membludak. Apa dampaknya?

Saat kami berlima berbincang dan pertanyaan di atas muncul di antara kami, semuanya sontak diam sejenak.

Bagi kami, pertanyaan di atas mengandung fakta. Bukan bualan belaka. Di Kabupaten Sumenep misalnya, setiap hari, tidak kurang dari ratusan karya jurnalistik (minimal memenuhi syarat 5W+1H) berseliweran. Di media sosial, group WhatsApp, Telegram dan platform digital lainnya.

Dari ratusan karya jurnalistik itu, ada anggapan, sebagian karya jurnalistiknya tampak elitis, propaganda dan memperkeruh air selokan.

Anggapan di atas, mungkin sangat sepihak, sporadis dan tanpa dasar. Akan tetapi, anggapan itu harus tetap kita hormati sebagai sebuah sudut pandang. Bentuk dari keberagaman tafsir.

Saat organisasi wartawan semakin banyak, dan jumlah wartawan bak jamur di musim penghujan, apa dampaknya? Menurut seorang kawan, tidak akan ada dampak yang signifikan.

Wartawan, yang pernah mendapat sebutan suluh dunia, akan terus berkewajiban untuk mengingatkan yang mapan dan menghibur yang papa. Berusaha menjaga keberagaman dan menguatkan kebhinnekaan.

Sebab tugas wartawan, pertama, minimal kerja jurnalistiknya sesuai buku saku wartawan. Kedua, berwawasan luas dan memiliki sense of human yang memadai. Ketiga, karya jurnalistiknya tidak melulu soal fakta. Namun mencerahkan.

Jadi kesimpulannya, tidak ada salahnya jumlah organisasi dan jumlah wartawan membludak. Selagi kerja jurnalistiknya tetap dalam koridor, semua akan berjalan ke arah yang lebih baik. Akan tetapi jika tidak demikian, maka beberapa hal musti kita telaah bersama. Perlu intropeksi bersama.

Pertama, menurut kawan saya, yang terpenting adalah inputnya. Baik imput sumber daya manusia dan lingkungan kerja mereka. Jika input SDM tidak memiliki kemampuan dan kemauan untuk belajar, mengasah sense of human, meningkatkan kualitas karya jurnalistiknya, tentu hal ini akan mempengaruhi kredibilitas. Secara personal dan pandangan umum atas wartawan.

Lingkungan kerja, yang dibangun dari input SDM yang belum memiliki kemampuan di bidang jurnalistik, juga sangat berpengaruh pada cara pandang publik atas kerja jurnalistik wartawan secara general. Jika cara pandang itu negatif, ini bencana. Wartawan akan tampak menakutkan, menyerupai preman. Ini musti dihindari.

Sebagai penutup, semoga ada inisiatif dari seluruh organisasi wartawan, khususnya di Kabupaten Sumenep, untuk membuka diri, melakukan langkah konkrit guna sama-sama belajar, memastikan bahwa karya jurnalistik selalu mencerahkan. Tidak menebarkan ketakutan atau bahkan menjadi bahan tertawaan.

Ada anggapan, setiap orang berhak mengaku wartawan. Tapi sebisa mungkin, jika mau, kasihanilah mereka yang benar-benar serius menekuninya. Menjadi wartawan, tidak cukup bermodal ingin, iseng atau desakan belaka. Apalagi merasa superior. Tidak cukup. Salam.


Sumenep, 09 September 2019

Baca Juga:  Saat Madura Padam, Kita Baru Ingat Bulan
  • Bagikan
WhatsApp chat