oleh

Kondisi Petani Bicorong di Tengah Pandemi Covid 19

MediaJatim.com, Pamekasan – Ketika kita berkunjung ke Desa Bicorong, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan secara langsung disuguhkan dengan keindahan alam yang elok; dengan nuansa hijau pepohonan yang sejuk di setiap lintasan jalan yang kita tapaki.

Hal itu karena daerah Bicorong terletak di perbukitan yang secara geografis tercatat sebagai daerah yang subur.
Kondisi geografis daerah Bicorong yang menguntungkan tersebut tidak disia-siakan dan dimanfaatkan dengan sangat baik oleh penduduk setempat. Sehingga tidak heran jikalau petani merupakan profesi utama bagi masyarakat daerah ini.

Letak daerah ini dikatakan menguntungkan karena dapat dibuktikan dengan tersedianya cukup air. Muaranya, tanah yang ada di desa ini sangatlah subur.

Petani musiman dapat dilabelkan untuk para petani yang ada di daerah Bicorong. Pasalnya, para petani di sini mengolah tanah dan menanam tanaman berdasarkan musim dengan hitungan bulan. Biasanya setiap tiga bulan sekali musim akan berganti, sehingga petani Bicorong menanam tanaman yang juga berbeda dari sebelumnya.

Baca Juga:  Eks Lokalisasi Padang Bulan dan Cafe Ashika Dirazia Polisi

Menurut rumus hitungan petani, menjelang bulan Mei ini sudah masuk pada musim kemarau, sehingga para petani haruslah menanam tembakau.

Bara semangat petani berkibar tatkala musim tembakau datang, karena pada musim ini penghasilan petani serasa terbayarkan dengan nominal rupiah yang mereka terima cukup besar. Uang tersebut dimanfaatkan untuk biaya kehidupan mereka selama setahun ke depan.

Hal itu yang membuat masyarakat tetap bersikukuh untuk menanam tembakau di tengah pandemi virus Corona yang menjadi sorotan dunia dengan dampak yang dirasakan sangat signifikan dalam berbagai aspek kehidupan.
Meski pandemi virus Corona belum berakhir, masyarakat tetap bersikukuh menanam tembakau tanpa mempertimbangkan inisiatif penanaman padi kembali.

Sementara itu, harga tembakau masih belum menentu mengingat tahun lalu harga tembakau anjlok. Apalagi di tengah wabah pandemi seperti sekarang ini.

Baca Juga:  Arogansi Sektoral Pjs Rektor Unija Sumenep

Hal ini berbeda dengan daerah yang sulit air seperti halnya Desa Kertagena Tengah, Kadur, Pamekasan. Masyarakat justru berinisiatif menanam padi kembali karena mereka menyadari betapa berharganya padi apalagi menghadapi pandemi virus Corona yang tak kunjung berakhir ini.

Mereka menyadari bahwasanya apabila virus Corona belum berlalu, maka akan sangat memungkinkan krisis berlanjut dan panen tembakau pun akan terganggu pemasarannya. Sebab, kemungkinan pihak pabrik tembakau takut untuk membeli tembakau masyarakat atau bisa saja pabrik tembakau tutup bila pandemi ini tidak cepat berlalu.

Reporter: Dewi Nafila

Redaktur: A6

Catatan: Ini tulisan jurnalisme kampus. Dalam rangka mengembangkan pers kampus, Media Jatim turut memfasilitasi pemuatan tulisan para mahasiswa. Ini sebagai ikhtiar guna menguatkan spirit pers sebagai salah satu pilar demokrasi, dengan melibat-aktifkan para pemuda atau mahasiswa berkarya.