oleh

Calon Bupati Fattah Jasin dan Foto Selfienya

Upaya Fattah Jasin untuk menunjukkan wajah politik yang teduh, hemat saya, perlu diapresiasi. Dalam beberapa kesempatan, dia berfoto selfie dengan lawan politiknya di Pilbup Sumenep.

Terakhir, saat pemeriksaan kesehatan di salah satu rumah sakit di Surabaya, foto selfie dirinya dengan Achmad Fauzi dan Dewi Khalifah atau Nyi Eva, seperti menjadi oase di tengah perdebatan antar relawan yang sedang saling tagih soal visi-misi.

Misalnya, relawan Fattah Jasin-Ali Fikri menuding, pasangan Achmad Fauzi-Dewi Khalifah tampak kurang serius di Pilbup Sumenep. Hingga kini, pasangan Zi-Va (diduga) belum mengumbar visi-misinya ke publik.

Sedangkan relawan Gus Acing-Mas Kyai, merasa diatas angin; seluruh visi-misinya sudah final dan diklaim sesuai dengan rencana pembangunan, baik dengan Pemprov Jatim dan pusat. Meskipun beberapa program terkesan “nebeng” agenda pusat, misalnya.

Kembali soal foto selfie. Menyebarnya foto dengan kesan akrab itu, secara sederhana menuai beragam tafsir. Misalnya, Fattah Jasin ingin menunjukkan bahwa politik yang baik tidak selalu adu keras urat leher. Adu lantang menyapa relawan. Tidak.

Baca Juga:  Ifan: Saya Enjoy Saja, Tak Terusik dengan Apapun

Politik, lewat foto selfie itu, bisa dijalani dengan akrab, penuh senyum dan membiarkan seluruh intrik menjadi rahasia tim pemenangan saja. 

Selain itu, seakan saja Fattah Jasin ingin menunjukkan sikap berpolitik yang dewasa. Jika dia menang, Achmad Fauzi tetaplah saudara sepertarungan. Jika pun dia kalah, senyum di foto itu akan mengajarkannya cara menerima kekalahan, yaitu dengan senyuman.

Dari sekian angle foto selfie yang tersebar, kameranya selalu dipegang oleh Fattah Jasin. Mungkin saja, bukan karena Fattah Jasin lebih superior. Tapi momen itu terjadi karena sikap hormat Achmad Fauzi pada yang lebih tua. Semua serba mungkin bukan(?)

Diakui atau tidak, hal yang terkesan remeh ini adalah sisi lain yang menarik dari politik. Jika sungguh-sungguh ingin belajar, politik mengajarkan setiap orang untuk bersikap bijaksana.

Gestur dan capture seorang tokoh politik, memberi kesempatan setiap orang untuk membuat tafsir. Pada titik inilah, kebijaksanaan seseorang diasah. Titik pijak, diantaranya sikap keberpihakan, akan menentukan kualitas tafsir dan kebijaksanaan seseorang.

Baca Juga:  Dra. Juana, Srikandi NasDem Jember yang Peduli Covid-19

Hanya saja, kadang niat sebaik apapun, tetap tidak mempan bagi mereka yang memandang politik hanyalah intrik licik; segala cara dilakukan untuk menang. Bagi pribadi macam mereka, politik serupa wine. Mabuk saja, tidak lebih. Tidak perlu belajar apapun. Melupakan orang lain sudah cukup.

Terakhir. Mungkin saja foto itu settingan. Mungkin saja ada maksud yang lebih jauh dan lebih rumit, misalnya, betapa kejinya politik yang dipoles dengan kepura-puraan. Atau politik yang jualannya melulu topeng kebaikan(?)

Namun, sejauh mata memandang, foto selfie Fattah Jasin dan lawan politiknya tak ada yang menyiratkan permusuhan. Sepintas tampak meneduhkan dan penuh keakraban. Nah! Kalau bisa dimaknai dengan sederhana, kenapa harus dibuat rumit, iya kan(?) Salam.

Gapura, 08 September 2020

*Nur Khalis, Jurnalis asal Sumenep.