Manfaatkan Hibah PKM, Dosen UIM Latih Petani Ciptakan Pupuk Organik

MEDIAJATIM.COM | Pamekasan – Universitas Islam Madura (UIM) patut berbangga. Sebab, kampus hijau itu konsisten menelurkan dosen berkualitas dan loyal terhadap masyarakat. Baru-baru ini, tiga dosen UIM mendapatkan hibah program kemitraan masyarakat (PKM) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Tiga dosen tersebut yakni, Kustiawati Ningsih, sebagai ketua pelaksana; Halimatus Sakdiyah dan Moh. Da’i Bachtiar, sebagai anggota pelaksana. Ketiga dosen tersebut memanfaatkan dana hibah itu untuk program peningkatan kompetensi dan pemberdayaan petani. Kegiatan itu berlangsung sejak 1 April lalu, sampai Desember mendatang.

Kustiawati Ningsih menjelaskan, realisasi program tersebut sebagai salah wujud tridharma perguruan tingg. Yakni, pengabdian kepada masyarakat. Untuk itu, pihaknya bermitra dengan Kelompok Tani (Poktan) Harapan Jaya, Desa Panaguan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan. Sebanyak 40 orang petani mengikuti pelatihan dan pendampingan.

Pelatihan yang diberikan, lanjut Kustiawati, berupa pelatihan manajemen sumber daya manusia (SDM), pelatihan manajemen produksi, pelatihan manajemen keuangan sederhana, dan pelatihan pemasaran online. Paket pelatihan itu akan mendorong petani lebih produktif dari proses produksi hingga pemasaran.

Baca Juga:  Siapkan Generasi Emas, Peserta PKL UIM Gelar Pekan Edukasi

Selain itu, petani juga diberi wawasan tentang cara menciptakan pupuk organik dari limbah jerami padi. Praktik itu diikuti secara seksama, sampai petani benar-benar menguasai teori. Dengan begitu, pupuk organik bisa didapat dengan cara yang lebih mudah. Yang terpenting, hal itu dapat menekan beban biaya produksi.

“Kalau usaha ini digeluti secara konsisten, ini bisa menunjang perekonomian petani dan mampu meningkatkan taraf hidup petani,” ucap Kustiawati, Sabtu (30/7/2022).

Selain itu, kata Kustiawati, pihaknya juga membekali petani dengan pengetahuan tentang proses versifikasi olahan daun kelor. Sebab ternyata, daun kelor tidak hanya bisa dijadikan sayur, tetapi juga bisa ditransformasi menjadi tepung dan dendeng. Dua macam produk itu diyakini akan bernilai ekonomis dan diminati banyak orang.

Baca Juga:  Kades Bersama Satgas Desa Demung Bagikan Ribuan Masker

Kustiawati melanjutkan, untuk menunjang proses pelatihan agar maksimal. Pihaknya memberikan bantuan peralatan. Dengan bantuan alat, aktivitas produksi bisa semakin mudah, dan petani bisa meraup untung lebih banyak. Sebab, alat-alat tersebut diberikan secara gratis melalui hibah PKM dari Kemendikbudristek.

Pendampingan akan terus dilakukan sampai petani benar-benar mandiri dan merasakan manfaat dari program tersebut. Bahkan, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan dinas terkait untuk bisa memperoleh izin pangan industri rumah tangga (PIRT). Agar produk pupuk organik dari limbah jerami dan olahan daun kelor itu dapat dipasarkan secara bebas.

“Semoga program ini bermanfaat. Ini sudah menjadi tugas kami. Karena salah satu tridharma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat,” pungkas Kustiawati.

Reporter: Bahrul Rosi
Redaktur: Zul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

WhatsApp chat