Segenap pimpinan dan karyawan_20240408_235739_0000

Polres Bangkalan Tetapkan 9 Pengurus Pesantren sebagai Tersangka Pembunuhan Santri

Media Jatim
Polres Bangkalan
(Helmi Yahya/Media Jatim) Kapolres Bangkalan AKBP Wiwit Ari Wibisono (tengah) saat menyampaikan penetapan tersangka dalam kasus pembunuhan santri berinisial BT (16) di Bangkalan, Senin (13/3/2023).

Bangkalan, mediajatim.com — Polres Bangkalan menetapkan 9 tersangka dalam kasus penganiayaan santri hingga meninggal, dengan inisial BT (16), di salah satu pondok pesantren Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan, Senin (13/3/2023).

8_20240408_234212_0006
21_20240408_234212_0019
5_20240408_234212_0003
2_20240408_234211_0000
3_20240408_234211_0001
10_20240408_234212_0008
Diskon_20240411_102039_0000

Kasatreskrim Polres Bangkalan AKP Bangkit Danandjaya mengungkapkan 9 pelaku tersebut, antara lain, NH (19), AZ (17), Z (19) dan W (17) asal Kecamatan Geger, GAD (19), RR (17) dan RM (17) asal Kecamatan Arosbaya, U (20) dan ZA (20) asal Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan.

6_20240408_234212_0004
14_20240408_234212_0012
7_20240408_234212_0005
Diskon_20240408_235150_0000
24_20240408_234212_0022
13_20240408_234212_0011

Nasib malang yang menimpa BT tersebut, kata Bangkit, berlangsung pada Selasa (7/3/2023), sekitar pukul 21.00 WIB.

23_20240408_234212_0021
18_20240409_074953_0001
11_20240408_234212_0009
12_20240408_234212_0010
22_20240408_234212_0020
19_20240408_234212_0017

“Menurut keterangan pelaku dan saksi, BT di aniaya hingga meninggal oleh 9 pelaku itu karena diduga telah melakukan aksi pencurian,” ucapnya, Selasa (14/3/2023).

Ditanya soal kronologi kejadian, Bangkit bercerita, kasus ini berawal saat seorang santri berinisial R melaporkan ke pengurus pesantren bahwa dua temannya yakni, RAR telah kehilangan uang Rp300 ribu dan H juga kehilangan uang sebesar Rp150 ribu.

“Dari sini pengurus pondok mencoba memanggil santri yang sekamar dengan yang kehilangan, yakni D, F dan BT secara bergantian ke kamar pengurus (Kamar C3) di lantai tiga atas,” tukasnya.

Baca Juga:  Ledakan Diduga Rudal Nyasar Gegerkan Warga Bangkalan: 1 Meninggal, 2 Orang Kritis dan 5 Bangunan Rusak

Kemudian, lanjut Bangkit, pengurus pesantren memanggil D, namun mengaku tidak tahu. Setelah itu, berlanjut ke F. Ternyata, F mengakui, bahwa dirinya telah mengambil uang milik RAR dan H dengan total Rp450 ribu.

“F ini mengaku mencuri karena disuruh temannya bernama BT, kemudian hasilnya dibagi dua,” ulasnya.

Saat BT dipanggil oleh pengurus pondok, tutur Bangkit, ternyata dia menepis tuduhan bahwa telah terlibat dalam kasus pencurian tersebut. Sehingga terjadi pemukulan hingga akhirnya BT mengaku. Dari pengakuan BT, pengurus menyuruh mencatat lokasi dan temannya yang terlibat.

9_20240408_234212_0007
20_20240408_234212_0018
15_20240408_234212_0013
17_20240409_074953_0000
16_20240408_234212_0014
Diskon_20240409_180711_0000

Lebih lanjut Bangkit bercerita, pada Senin (6/3/2023) pukul 21.00 WIB, berdasarkan hasil catatan BT, R dipanggil ke kamar pengurus untuk memastikan kebenaran yang ditulis oleh BT. Dan R pun mengakuinya.

“Namun, pengakuan R ini dibantah oleh kakaknya, yaitu RA, yang juga merupakan ustad di pondok, katanya, R mencuri karena takut dipukuli BT,” tukasnya.

Setelah mendapat keterangan dari ustad RA, tutur Bangkit, R akhirnya mengaku tidak mencuri. Sehingga BT kembali dipanggil untuk dikonfirmasi. Usai dikonfirmasi, BT menjelaskan kepada RA bahwa R tidak pernah mencuri. Setelah itu, R disuruh keluar dari kamar ustad dan kembali ke kamarnya.

Baca Juga:  6 Ribu Anak Yatim di Sampang Dapat Santunan Rutin, Hj. Mimin: Ini Kebiasaan sebelum Jadi Bupati

“Setelah R keluar, pengurus emosi karena BT telah mencuri uang dan memfitnah R, korban dipukuli hingga terlentang dan tidak sadarkan diri,” tukas Bangkit.

Melihat BT tak sadar, berdasarkan cerita Bangkit, pengurus panik dan membawa BT ke Puskesmas. Saat diperiksa oleh petugas medis, BT dinyatakan telah meninggal dunia.

Atas kejadian itu, ungkap Bangkit, pengasuh pondok mengumpulkan santri yang sudah melakukan pemukulan tersebut dan diserahkan ke Polsek setempat, lalu dilimpahkan ke Polres Bangkalan.

“Kami melakukan serangkaian penyelidikan dan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi. Untuk sementara 9 orang jadi tersangka dalam kasus tersebut,” terangnya.

Kapolres Bangkalan AKBP Wiwit Ari Wibisono mengaku, saat ini pihaknya masih terus melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut, sebab kemungkinan masih ada tersangka baru. “Untuk sementara ada 9 orang yang kita tetapkan sebagai tersangka,” katanya, Senin (13/03/2023).

Dia mengimbau kepada seluruh masyarakat Bangkalan agar tidak main hakim sendiri jika ada tindakan melanggar hukum, termasuk di lingkungan pesantren.

“Kalau ada pelanggaran pidana, laporkan saja ke penegak hukum, jangan main hakim sendiri, karena yang memutuskan bersalah adalah pihak kepolisian, bukan kelompok atau perorangan,” ucapnya.(hel/faj)

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sampang_20240410_124753_0000
4_20240408_232459_0003
6_20240408_232459_0005
1_20240408_232458_0000
Dinas lingkungan hidup kabupaten sumenep_20240408_232720_0000
7_20240408_232459_0006
3_20240408_232459_0002
8_20240408_232459_0007
2_20240408_232459_0001