Opini  

Pep Guardiola dan Ambisi Manchester City

Media Jatim

Mulai musim 2016-2017, Pep Guardiola resmi berlabuh ke Manchester City. Klub ini memiliki materi pemain dengan talenta dan skill individu yang tinggi. Modal ini tentu akan memudahkan Pep untuk menerapkan taktik briliannya, “tika-taka”.

IMG-20240220-WA0010
IMG-20240220-WA0008

Dalam filosofi tika-taka, bertahan adalah tabu karena pertahanan terbaik adalah menyerang. Tika-taka merupakan skema permainan ofensif yang terus menekan pertahanan lawan sepanjang laga. Taktik ini mengandalkan sentuhan bola-bola pendek, penguasaan bola yang dominan dan tidak memberi peluang bagi lawan mengkreasi serangan.

Punggawa The Citizens tidak akan menemui kesulitan untuk beradaptasi dengan filosofi tika-tika. Sejak ditukangi Roberto Mancini dan kemudian dilanjutkan Manuel Pallegrini, Man City sudah terbiasa dengan pola permainan menyerang. Di dataran Inggris, hanya Man City dan Arsenal yang “sedikit menyamai” gaya main Barcelona –klub dimana Pep pertama kali memperkenalkan tika-taka dengan sukses. Man City dan Arsenal bisa dibilang merupakan saudara tiri Barcelona. Kedua klub ini lahir dari semangat mengusung permainan menyerang dan terbuka seperti Barcelona, tapi dengan bapak (baca; pelatih) yang berbeda.

Kehadiran Pep pasti sangat ditunggu-tunggu oleh fans berat Man City. Pria berkebangsaan Spanyol ini digadang-gadang bisa menuntaskan ambisi sang pemilik klub, Sheikh Mansour, untuk menjadikan The Citizens sebagai klub elit di pentas Eropa. Sudah sejak lama Mansour ingin mensejajarkan klubnya dengan klub raksasa Eropa seperti Real Madrid, Barcelona, AC Milan dan Bayern Munchen. Sejak Man City dibeli pada September 2008 hingga sekarang, tidak pernah sekalipun Mansour membawa pulang tropi Liga Champion ke markas Etihad Stadium.

Di mata Mansour, piala Liga Champion bagaikan gadis anggun yang tidak mudah ditaklukkan. Sudah berapa banyak dana yang digelontotkan oleh pemilik klub terkaya di Inggris ini. Baik Mancini maupun Pallegrini, keduanya dimanjakan dengan sokongan dana yang fantastis. Pemain-pemain dengan bandrol harga yang sangat tinggi didatangkan ke Etihad Stadium.

Tapi proyeksi besar Man City untuk menjuarai Liga Champion tidak menuai hasil. Kesalahan Mansour dengan proyeksi besar ini adalah tidak pernah mendatangkan pelatih yang telah menorehkan prestasi di ajang Liga Champion. Di kancah paling bergengsi di benua biru itu, Mancini dan Pallegrini bukanlah allenatore yang disegani dan ditakuti.

Sepanjang karirnya sebagai manajer, prestasi terbesar Mancini hanya mampu mambawa Intermilan tembus babak perempat final Liga Champions di musim 2004-2005. Karir Pallegrini sedikit lebih bagus. Saat mengasuh Villareal, pria kelahiran Chile ini sukses mengantar Villareall hingga semifinal UEFA Champions League 2005-2006.

Di bawah arahan Mancini dan Pallegrini, Man City memang bisa menjaga konsistensi untuk menunjukkan superioritasnya di Liga Primer Inggris. Tapi superioritas itu gagal dibawa ke level Eropa. Kedua manager ini seolah ditakdirkan bernasib sama; hanya mampu membawa Man City meraih tiket Liga Champion, tapi tidak pernah sekalipun keduanya merasakan nuansa ketegangan di partai final sekaligus menjuarai mahkota Liga Champion.

Dalam posisinya sebagai pemilik klub, Mansour sepertinya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Mendatangkan pelatih tanpa torehan prestasi di Liga Champion sama saja dengan mengubur ambisi besar Man City untuk menancapkan dominasinya di pentas Eropa. Pihak klub melancarkan rayuan maut meminang pelatih sarat prestasi, Pep Guardiola. Oleh The Citizens, mantan pemain yang pernah merumput di Italia ini diiming-imingi gaji setinggi langit. Pep yang mendapat perlakuan istimewa dari skuad Bayern Munchen dan berulang kali diminta tetap bertahan di Allianz Arena akhirnya memutuskan pergi.

Baca Juga:  Pojok Kelakar sebagai Sarana Bermain dan Mengembangkan Bakat Melukis

Tidak ada seorangpun yang meragukan karir kepelatihan seorang Pep. Baik pemain, manager maupun pemilik klub, semuanya menganggap Pep sebagai sosok pelatih yang sempurna. Selama empat musim (2008-2012) mengarsiteki Barcelona dan dua musim (2013-2015) membesut Bayern Munchen, Pep sukses mengoleksi 19 gelar, baik di kancah domestik, Eropa maupun internasional. 14 gelar diraih bersama Azulgrana, dan 5 gelar dia sumbangkan untuk Die Roten.

Atas capaian menakjubkan itu, Pep tercatat melampaui rekor Louis van Gaal dan Sven-Goran Eriksson dan Mourinho. Pep mendulang prestasi itu hanya dalam waktu tujuh tahun sementara ketiga pelatih yang disebut terakhir meraih 19 tropi setelah berkiprah selama 24 tahun (van Gaal), 35 tahun (Eriksson) dan 10 tahun (Mourinho)

Pada musim perdananya menukangi Carlos Puyol dan kawan-kawan, banyak pihak meragukan kemampuan Pep. Pep dianggap juru taktik minim pengalaman sehingga belum pantas membesut tim raksasa sekelas Barcelona. Tapi di luar dugaan, mantan gelandang timnas Spanyol ini bisa menjungkirbalikkan komentar miring banyak orang.

Dalam debutnya sebagai “pelatih professional”, Pep berhasil mengantar Blaugrana mengakhir musim dengan menggondol treble winner (La Liga, Copa del Rey, Liga Champions). Puncak prestasinya ditorehkan pada tahun 2009 dimana Pep dinobatkan sebagai pelatih terbaik dunia. Dua tahun berikutnya, reputasi kepelatihannya makin meroket setelah untuk kedua kalinya menyabet penghargaan serupa. Penghargaan sebagai pelatih terbaik dunia ini diperoleh berkat kontribusinya mengantarkan Barca merebut tropi Piala Super Spanyol, La Liga, Liga Champion dan Piala Dunia Antarklub sepanjang tahun 2011,

Ketertarikan Man City terhadap Pep Guardiola bukan sekali ini saja. Jauh sebelumnya, The Citizens sudah menaruh minat besar memburu pelatih jenius ini. Menjelang akhir tahun 2012, Pep sudah masuk dalam incaran pihak petinggi klub. Mantan pemain AS Roma ini menjadi kandidat kuat untuk menggeser kursi kepelatihan Mancini. Mancini yang gagal meloloskan Man City ke fase knock out Liga Champion akan didepak dan Pep dipersiapkan sebagai suksesornya.

Tapi perburuan kala itu gagal. Pep lebih memilih bergabung dengan klub penguasa Bundesliga, Bayern Munchen. Pada jendela transfer musim dingin 2016 ini, jajaran petinggi klub kembali gencar meminang Pep. Dan kali ini mantan arsitek Barcelona ini menyetujui kontrak selama tiga tahun untuk menjadi pelatih Man City.

Hijrahnya Pep ke Etihad Stadium membuat “atmosfer Barcelona” makin terasa di kubu Man City. Tiga tahun sebelumnya, dua mantan petinggi penting Barcelona, Ferran Soriano dan Txiki Begiristain telah lebih dulu bergabung. Pada Agustus 2012, Ferran Soriano ditunjuk sebagai CEO Man City. Dua bulan berikutnya, Txiki Begiristain mengikuti jejak Soriano. Txiki Begiristain direkrut menjadi direktur olahraga, posisi yang sama saat dia berkarier di Barcelona pada 2003-2010.

Baca Juga:  Gareth Bale Resmi Gantung Sepatu, Pemain yang Pernah Lima Kali Juara Liga Champions Bersama Real Madrid

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pemilik klub, Mansour, ingin menjadikan The Citizens sebagai Barcelona kedua. Miliyuner asal Uni Emirat Arab ini ingin membawa semangat superioritas dan mental juara Blaugrana ke dalam tubuh Man City. Bagi Mansour, permainan menyerang yang selama ini diperagakan Aguero dan kawan-kawan tidak ada artinya jika berujung dengan kekalahan.

Barcelona lebih dari itu. Punggawa Azulgrana yang dimotori Messi ini tidak hanya bisa bermain menyerang tapi mampu mengkonversi serangan menjadi sebuah gol. Superioritas klub asal Catalunya ini bukan hanya terletak pada kepiawian skill individu masing-masing pemain, tapi kesolidan tim mengendalikan ritme permainan.

Gol-gol yang tercipta lebih banyak lahir skema permainan tim yang indah. Bagi skuad Azulgrana, permainan indah itu penting tapi mereka tidak mengesampingkan tujuan pokok bahwa puncak keindahan dari sebuah permainan adalah menciptakan kemenangan. Para pemain Barca bukan hanya haus kemenangan tapi juga lapar gelar, baik gelar di liga domestik, Eropa maupun internasional. Dalam 7 tahun terakhir, mental juara itu begitu mendarah daging dalam tim Barca.

Ancaman Serius

Keputusan Pep membesut The Citizens menjadi ancaman serius bagi klub-klub papan atas, seperti Arsenal, Chelsea dan MU. Pada musim pertama dan kedua kepelatihannya baik di Barcelona maupun Bayern Munchen, Pep berhasil mempersembahkan gelar liga domestik. Capaian prestasi ini bukan tidak mungkin kembali akan diraih Pep bersama Man City.

Saat ini MU tampil kurang konsisten. Kehadiran Louis van Gaal di Old Trafford tidak banyak membawa pengaruh positif dalam mendongkrak performa skuad Setan Merah. Striker sekaligus kapten tim, Wayne Rooney tidak kunjung membaik. Merosotnya produktifitas gol Rooney diperparah oleh kontribusi yang minum dari Anthony Martial. Keduanya gagal menjadi ujung tombak yang mematikan.

Arsenal bermain cukup impresif, tapi tim ini seolah sudah kehilangan wibawanya untuk menjadi juara liga. Paceklik gelar liga selama 12 tahun membuat The Gunners mulai kurang disegani oleh rival-rival beratnya. Berulang kali Arsenal diprediksi menjadi juara, tapi nyatanya pada akhir musim tim di bawah komando Arsene Wenger ini gagal berada di puncak klasemen. Arsenal sepertinya sudah merasa cukup nyaman dengan kesuksesannya berada di posisi entah runnep up, ketiga atau keempat.

Sementara Chelsea mengawali musim dengan serangkaian hasil buruk. Berstatus sebagai juara bertahan, The Blues terseok-seok bahkan sempat mendekati zona degradasi. Penunjukan Guus Hidink menggantikan Mourinho tidak juga menjadi momen kebangkitan bagi kubu Chelsea. Lini pertahanan yang dihuni pemain tua menjadi salah satu titik kelemahan Chelsea. Sampai pekan ke 25 bergulirnya Liga Premier, tim yang bermarkas di Stamford Bridge ini lebih banyak kebobolan (35) daripada memasukkan gol (33).

Di musim depan, jika tiga klub papan atas ini tidak berbenah tentu akan sulit bersaing dengan Man City. Dengan menunjuk Pep sebagai manager menggantikan Pallegrini, The Citizens diprediksi akan mudah menyabet gelar liga domestik seperti pernah dibuktikan Pep bersama Azulgrana dan Die Roten.(*)


*Muhammad Ridwan, Penggemar Bola, Alumnus UIN Yogyakarta. 

Catatan: Artikel ini pernah tayang di Qureta. Diterbitkan Media Jatim atas izin penulis