Kisah Kasat Lantas Polres Pamekasan Selamat dari Bom di Aceh Berkat Doa Ibunya

Media Jatim
Kasat Lantas
(M. Arif/Media Jatim) Kasat Lantas Polres Pamekasan AKP Suryono, Senin (21/8/2023).

Pamekasan, mediajatim.com — Tidak sedikit orang yang meyakini dan mengandalkan doa seorang Ibu untuk menghadapi situasi-situasi sulit dalam perjalanan hidupnya.

IMG-20240220-WA0010
IMG-20240220-WA0008

Dari sekian banyak orang tersebut, salah satunya adalah Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Pamekasan baru AKP Suryono. Baginya doa Ibu bagai mantra yang bisa mengubah takdir buruk menjadi bagus.

Suryono adalah Kasat Lantas Polres Pamekasan, menggantikan AKP Mohammad Munir yang dimutasi menjadi Kasubbaganev Bagbinopsnal Ditlantas Polda Jawa Timur pada 6 Juli 2023 lalu.

“Saya seperti sekarang berkat doa-doa orang tua yang selalu terucap memenuhi langit, kalau bukan berkat mereka berdua, terutama Ibu, saya mungkin tidak seperti sekarang,” ungkap Suryono kepada mediajatim.com, Senin (21/8/2023).

Suryono mengakui bahwa dirinya bukan lahir dari keluarga kaya. Dia bercerita, bapaknya bekerja sebagai penangkap katak biru untuk dijual, dan itu tak seberapa untungnya untuk menghidupi empat orang anaknya 30 tahun yang lalu.

“Saya awalnya dagang tembakau pada 1994. Namun karena kondisi tembakau hancur akibat kebanjiran, maka saya hijrah ke Jakarta, menemui sepupu dengan ongkos kereta hasil penjualan anting Ibu saya yang dulu laku Rp19 ribu,” jelasnya.

Baca Juga:  Sukses Bungkam PS KOPA, Romli Efendy Beberkan Kunci Kemenangan Persepam

Sampai di Ibu Kota, kata Suryono, dia tidak langsung bertemu dengan sepupunya. Hingga akhirnya harus tidur di trotoar depan Polda Metro Jaya Jaksel, karena tidak punya tempat tinggal.

“Saya masih ingat, dulu sempat menjadi tukang ojek dengan mengendarai motor orang Nganjuk, namanya Pandi, dan sampai sekarang masih tetap komunikasi,” ujarnya.

Lambat laun, lanjut Suryono, secara kebetulan bertemu dengan orang kaya yang ternyata seorang polisi. Si orang kaya ini menyuruhnya untuk mengurus burung. “Beberapa saat setelah itu, saya juga mendapat kesempatan bekerja di Jasa Marga,” ucapnya.

Lantas karena mungkin kasihan, tutur Suryono, di suatu waktu istri polisi kaya itu kemudian menyuruhnya untuk mendaftar anggota kepolisian.

Tak disangka, ternyata Suryono lolos. Hingga akhirnya berhasil menempuh pendidikan kepolisian di Ujung Pandang selama 11 bulan.

“Saya pernah bertugas di Mako Brimob, Kopassus, hingga menjadi pasukan Gegana dan sudah dikirim ke banyak wilayah, seperti ke Entikong, Ambon, Timor Timur, Irian, Batam, hingga Aceh,” ujarnya.

Baca Juga:  Obtaining Advice about Women's Key UKraine

Suryono bercerita, saat bertugas di Aceh, dirinya pernah mengalami luka cukup parah di bagian lengan dan tangannya akibat kena bom ranjau mobil dan bekasnya masih ada hingga sekarang.

“Alhamdulillah masih selamat, meski harus dirawat di Rumah Sakit (RS) Polri Keramat Jati selama empat bulan enam hari. Namun hikmahnya pada saat itu saya juga tak sengaja ketemu dengan perempuan yang setia menemani saya hingga saat ini,” jelasnya.

Mantan Kasat Lantas Bondowoso itu meyakini bahwa ia berhasil selamat dari bom saat bertugas di Aceh karena doa-doa Ibunya.

“Makanya hingga saat ini, saya selalu rutin pulang ke Tulungagung untuk menemui Ibu. Kalau bukan berkat beliau, saya tidak mungkin seperti sekarang. Selagi masih hidup kita wajib berbakti kepada orang tua kita,” ujarnya.

Mendapatkan jabatan baru sebagai Kasat Lantas Polres Pamekasan, bagi Suryono, adalah tantangan tersendiri. “Saya harus lebih dekat dengan masyarakat sebab bersentuhan langsung dengan mereka,” tukasnya.

Karena itulah, Suryono berharap mendapat dukungan semua pihak dalam menjalankan tugas tersebut. “Agar Polri dan masyarakat bisa kompak dalam membangun kondusivitas demi kenyamanan bersama,” pungkasnya.(rif/faj)