Mencermati Pasca Debat Kandidat Pilkada Pamekasan

 

Debat Cabup-Cawabup Pamekasan periode 2018-2023 yang digelar KPU pada malam Rabu, 24 April 2018 lalu menyisakan banyak kesan di masyarakat kita. Hotel Odaita tempat acara debat tersebut berlangsung menjadi saksi bisu sejarah, tentang putra-putra terbaik daerah yang tak pernah lelah meyakinkan masyarakat dengan menampilkan kecerdasan argumen, penjabaran visi-misi dan bersilat lidah saat pertanyaan dari panelis diajukan. Bahkan usaha saling menyerang dengan statemen-statemen yang menjatuhkan sering dilontarkan oleh kedua paslon.

Selama masih dalam koridor aturan perdebatan, adu program dan rencana kebijakan strategis kedua paslon merupakan tontonan dan tayangan yang semakin membuka mata para pemilih. Setidaknya, pemilih bisa menilai secara langsung kapasitas dan kapabilitas calon pemimpinnya. Program-program strategis paslon nomor urut berapa yang lebih berpihak pada rakyat? Debat yang berlangsung selama dua jam tersebut memberikan jawaban nyata secara terang-benderang.

Di awal perdebatan, moderator melarang keras untuk menyerang lawan diskusi dengan hal-hal yang bersifat privacy. Tapi, diserang atau tidak, diungkap atau disembunyikan ke publik, kehidupan privacy tetap merupakan bagian dari karakter seorang pemimpin yang tidak dapat dipisahkan dari dirinya sebagai pribadi dan sebagai publik figur sekaligus. Baik saat berhadapan dengan rakyat di wilayah publik, atau sedang sendiri di ruang yang sunyi dan gelap. Sebab pemimpin bukan aktor film. Ia tampil di hadapan publik bukan untuk bersandiwara, tapi menampilkan karakter yang sebenarnya dan apa adanya.

Tahun 1990-an yang lalu, dunia sedang gencar-gencarnya memproyeksikan pendidikan abad 21 untuk dapat melahirkan pemimpin masa depan yang berkarakter. Tanpa karakter yang baik, pemimpin akan sulit untuk menaklukkan tantangan zaman. Bisa jadi, akan terseret oleh arus zaman, sehingga tergoda untuk melakukan kebohongan dan pembodohan pada publik.

Karakter pemimpin abad 21 yang akan ditonjolkan adalah karakter moral dan karakter kinerja. Karakter moral meliputi keimanan, ketakwaan, rendah hati, kejujuran dan seterusnya. Sedangkan karakter kinerja meliputi kerja keras, ulet, tangguh, tidak mudah menyerah, tuntas menyelesaikan program pekerjaan dan sebagainya.

Artinya, dalam konteks politik Pamekasan, jangan sampai kepemimpinan di masa depan dikendalikan oleh orang yang jujur, tapi malas. Atau ia rajin bekerja keras, tapi culas. Sebagai rakyat pemilih, tidak berlebihan kiranya jika kita menelisik. Bahwa sederet isu pemalsuan data diri untuk kepentingan pribadi, serta menyalahi UU Kementerian Agama oleh salah satu kontestan politik di kabupaten ini, adalah indikasi buruk yang harus membuat pemilih lebih berhati-hati. Bahwa karakter moral dan karakter kinerja adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan harus dimiliki oleh pemimpin kita di masa yang akan datang.

Selain itu, proyeksi kepemimpinan abad 21 juga diarahkan agar memiliki empat kompetensi. Di antaranya; berfikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif. Empat kompetensi tersebut senantiasa masyarakat tunggu untuk diejawantahkan oleh Bupati-Wakil Bupati pasca Pilkada. Jika melihat jalannya debat kandidat beberapa hari yang lalu, jelas terlihat kompetensi-kompetensi itu melekat pada diri pasangan Berbaur.

Baca Juga:  Peran Masyarakat dalam Pemilu 2019 sebagai Barometer Demokrasi di Indonesia

Kebijakan-kebijakannya untuk membangun kabupaten Pamekasan dari wilayah pedesaan, merupakan langkah strategis dalam melibatkan masyarakat desa menjadi bagian langsung dari pembangunan ekonomi kabupaten secara mandiri. Program kucuran dana 500 juta sampai 1 milyard untuk satu desa setiap tahun, memungkinkan masyarakat lebih kreatif berinovasi untuk mengangkat potensi dan kearifan lokal yang ada dan berserakan di lingkungannya.

Infrastruktur merata dan berkeadilan antara wilayah utara-selatan yang dicanangkan, merupakan program kritis untuk menjawab ketimpangan pembangunan fisik dan sumberdaya manusia di Pamekasan selama ini. Sehingga ke depan, tidak akan ada lagi marjinalisasi kebijakan yang melukai rasa keadilan di tengah-tengah masyarakat kita.

Begitu juga saat menyikapi jumlah pengangguran usia produktif dan terdidik yang semakin meningkat, serta minimnya skill angkatan kerja dan lapangan kerja yang tersedia. Solusi wirausaha mandiri menjadi jawaban yang dapat meretas kesulitan yang selama ini menghalang. Tingkat pengangguran terbuka di Pamekasan yang mencapai 4,19%, mengantarkan kabupaten ini menempati rangking ke18 dari 38 kabupaten di Jawa Timur dalam menanggung beban angka pengangguran yang terus membengkak.

Sehingga program 10.000 pengusaha baru milik Berbaur menjadi angin segar bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan pekerjaan. Tidak tanggung-tanggung, Berbaur menargetkan jumlah angka pengangguran di Pamekasan semakin tertekan dan diusahakan agar segera terserap oleh lapangan pekerjaan. Harapan itu untuk menaikkan peringkat angkatan kerja kita menjadi nomor 10 se Jawa Timur. Sepatu, tas sekolah, peci, sarung, sandal dan pakaian-pakaian sehari-hari akan diproduksi secara massal di desa-desa dengan mengaktifkan BUMD dan Koperasi milik desa atau Pemerintah Kabupaten sebagai soko guru perekonomian masyarakat di tingkat bawah.

Itulah sekelumit gagasan kandidat Cabup-Cawabup Berbaur yang dapat saya tangkap. Berbeda jauh dengan tawaran program pasangan Kholifah sebagai rival politik Berbaur satu-satunya. Program-program Berbaur ebih inovatif, kreatif dan mampu membangun wacana program secara kolaboratif, baru dan kontekstual. Sedangkan kubu Kholifah lebih banyak menawarkan prgram-program lama, seakan terlena dan puas dengan solusi masa lalu. Padahal, rakyat gelisah menatap masa depan. Seperti gelisah yang dirasakan pasangan Berbaur dengan menyusun strategi dan solusi baru yang cerdas dan memihak rayat.

Misalnya, saat moderator mengajukan pertanyaan dari panelis mengenai masalah harga dan kwalitas tembakau. Paslon Kholifah menjawab dengan solusi konvensional, hanya sekedar koordinasi dengan gudang pengepul, pengendalian peredaran pupuk dan pengawasan harga dari Disperindag kepada gudang-gudang tembakau. Sebuah solusi klasik, persis sama dengan kebijakan tiga sampai empat tahun yang lalu saat harga tembakau terpuruk dan petani kita dirugikan.

Tidak seperti gagasan Berbaur, yang ingin berusaha keras meningkatkan daya produksi dan daya jual pabrik rokok lokal sehingga dapat membeli tembakau petani yang melebihi setok kebutuhan pabrik rokok nasional. Dengan demikian, tembakau petani kita tetap terselamatkan dan dapat terjual dengan harga mahal.

Baca Juga:  Polisi, Korban Baru Visit Sumenep 2018 (?)

Satu hal yang penting untuk disadari oleh masyarakat, yaitu saat pertanyaan yang diajukan oleh Cawabup Berbaur kepada Cawabup Kholifah. Dalam debat kandididat tersebut pertanyaan Raja’e kepada Fathorrahman ternyata dapat mengungkap ada tidaknya honesty atau kejujuran, ketulusan, kebenaran, ketulusan hati dan kelurusan berfikir rival politiknya.

Petanyaan yang menjebak tersebut bagi saya lebih dimaksudkan oleh Raja’e sebagai “tes kapasitas kepribadian” kepada Cawabup dari Kholifah. Pertanyaan yang diajukan oleh Cawabup Berbaur, Raja’e, yaitu meminta Fathorrahman sebagai Cawabup Kholifah untuk menyebutkan 3 program yang baik dari Berbaur. Dari pertanyaan tersebut Fathorrahman menjawab bahwa tidak ada yang bagus. Bahkan, satu pun tidak ada yang bagus. Bahkan ia berkelakar bahwa yang paling bagus adalah program milik Kholifah.

Itulah cara Raja’e untuk mengetahui sejauh mana kejujuran seteru politiknya dalam mengakui dan merespon sebuah nilai kebaikan secara sportif. Agar masyarakat tau, sejauh mana tingkat kepribadian calon pemimpinnya dalam kemampuan dan kemauannya menghargai serta mengakui kelebihan orang lain.

Sejatinya, mengakui adalah proses yang tidak mudah. Apa pun statusnya dan di mana pun posisinya, lawan atau kawan harus dihormati. Dengan demikian, kehormatan dan harga dirinya terjaga di hadapan orang lain.

Dalam berpolitik, tidak hanya menyangkut soal kalah atau menang. Akan tetapi harus tetap jantan mengakui bahwa masih ada yang terbaik di atas yang terbaik. Oleh karena itu jangan pernah terjebak pada prasangka, akan kapasitas diri yang selalu dianggap sempurna. Sehingga, kelebihan orang lain menjadi tidak pernah terlihat oleh mata.

Jumlah harta kita mungkin masih bisa dihitung. Angka-angka selalu bisa dijumlahkan. Tapi mengakui akan kelebihan lawan, terlalu sulit untuk diapresiasi dengan jujur sesuai kenyataan. Padahal Kejujuran sangat dibutuhkan untuk mendapat kepercayaan dari setiap orang. Itu sebabnya, kejujuran (shiddiq) menjadi syarat wajib yang pertama bagi seorang pemimpin sekelas Nabi, sebelum terpercaya (amanah), menyampaikan risalah (tabligh) dan cerdas (fathonah).

Saya jadi teringat saat debat Capres-Cawapres Indonesia 4 tahun silam. Saat Moderator menanyakan tanggapan Prabowo Subianto terhadap rencana progam Joko Widodo mengenai pemberdayaan dan pengembangan Industri Kreatif, Prabowo Subianto menjawab bahwa program itu sangat bagus. Ia mengapresiasi dan siap mendukung program tersebut untuk mengangkat kearifan lokal dan hasil kreasi anak bangsa. Apa lagi jika ia ingat bahwa puteranya menjalankan bisnis perancangan busana dan berprofesi sebagai desainer. Tentu hal itu akan sangat mendorong kemajuan usahanya. Sungguh sebuah sikap kontestan politik yang memiliki jiwa Kepemimpinan dan sifat kenegarawanan yang menawan, meski akhirnya harus menerima kekalahan. Wallaahu a’lam..

*) Penulis adalah pegiat diskusi politik, bagian dari keluarga besar Majelis Alumni IPNU Cabang Pamekasan, istiqomah menggagas ide dan wacana publik di Forum Kolom Ilmiah Al-Ghazali, tinggal di Nyalaran.

WhatsApp chat