oleh

Pandemi Corona di Tengah Masyarakat Sosiologi-Mistik

Oleh: Ainur Rodiyah

Bila pandemi Corona dikaji dari segi sosiologis-mistik, yang pada umumnya masih berlaku sebagai keyakinan di masyarakat primitif dan secara geografis sangat jauh dari kemajuan zaman, barangkali penyakit yang bernama Corona itu sekadar pemberian dari Tuhan melalui pelantara makhluknya. Sebab, sejak adanya pandemi Corona sampai hari ini pun yang sudah makin meracuni pola hidup dan pikir manusia dalam kungkungan kecemasan, pola pikir masyarakat masih percaya bila segala penyakit itu datang dari Tuhan atau yang dikenal dengan istilah sosiologis-mistik. Wabah Corona hanya dianggap sekedar ujian dari Tuhan untuk makhluk-makhluknya yang nakal.

Di media massa tak putus-putusnya memberitakan korban Corona semakin hari selalu bertambah, kebanyakan yang terjangkit masyarakat perkotaan, seperti di Jakarta dan sekitarnya yang sejauh ini menjadi daerah terbanyak terkonfirmasi Corona dan banyak pula yang sudah dinyatakan meninggal dunia. Namun kondisi ini, tidak lantas membuat orang kampung panik. Orang-orang di kampung masih tetap beraktivitas sebagaimana biasa seperti sebelum adanya penyakit yang meresahkan ini. Salah satu aktivitas yang hingga kini masih tetap dilakukan adalah berkumpul-kumpul. Padahal itu sudah dilarang oleh pemerintah selama masa pandemi masih belum berakhir. Bahkan meski di beberapa tempat dilakukan pengusiran, karena dinilai akan menjadi salah satu media penyebaran virus Corona, mereka tetap tidak mengindahkan dan tidak jarang pula yang meremehkan.

Semua peringatan dari pemerintah maupun pihak terkait lainnya hanya berlaku bagi masyarakat di perkotaan saja. Begitulah yang sering mereka dengungkan ketika berbincang-bincang dengan warga sekitar. Selain itu, penyebab lainnya masyarakat kampung tidak mengikuti anjuran pemerintah, lantaran pekerjaan mereka tidak dapat dikerjakan melalui sistem online. Pekerjaan mereka rata-rata petani dan sangat tidak mungkin mengerjakan aktivitas pertanian hanya dari rumah saja.

Apalagi untuk saat ini yang sedang masuk musim penghujan. Musim dimana para petani banyak menanam komoditas-komoditas di lahan yang mereka punya karena ketersediaan air di musim penghujan yang sangat mencukupi. Aktivitas ini memang sudah menjadi turun temurun dari nenek moyang mereka yang seakan tidak bisa diganggu oleh siapapun termasuk adanya wabah Corona.

Baca Juga:  Ekonomi Merosot Tajam Akibat Corona, Warga Situbondo Banyak Mengeluh

Imbauan yang terpangpang jelas di berbagai media di setiap waktu, tidak lantas membuat mereka getir. Bahkan masyarakat kampung hanya kebingungan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, seperti adanya imbauan kerja dari rumah dan ibadah di rumah saja. Ini jelas mendapatkan penolakan dari mereka, apalagi saat ini masyarakat tengah berada di bulan Ramadhan, yang sudah terbiasa melakukan shalat tarawih bersama di masjid.

Saat ini, kebanyakan opini yang berkembang dari warga primitif, kebijakan pemerintah dinilai kebijakan yang kurang relevan bagi masyarakat yang secara ekonomi di bawah rata-rata dan kemampuannya masih dibilang rendah. Meskipun pelarangan tersebut dikawal dengan ketat sekalipun hingga ke daerah perkampungan, saya tidak menjamin bisa diperhitungkan atau dihiraukan.

Sekalipun Presiden yang memberikan pelarangan sebagai antisipasi wabah Corona agar tidak terus menyebar. Warga di perkambungan belum tentu akan patuh seluruhnya, sebab bagi mereka bila diwajibkan berdiam di rumah saja selama pandemi ini, maka akan menimbulkan masalah baru yang berkepanjangan.

Mereka berpikir, siapa yang akan menanggung segala kebutuhan hidup sehari-hari mereka?, sekalipun pemerintah memberikan bantuan berupa uang tunjangan yang tak seberapa melalui program Kartu Prakerja bagi korban PHK atau BLT-DD bagi warga miskin terdampak penyebaran Corona, mereka tidak percaya akan bisa dapat bantuan itu dan menganggapnya hanya sekadar untung-untungan saja. Karena itu masih melewati tahap seleksi online dan tidak pernah jelas indikasi kelulusannnya. Karena jelas tidak mungkin semua masyarakat Indonesia yang jumlahnya jutaan bisa diterima walau kondisinya benar tidak mampu maupun merupakan korban PHK.

Tidak putus disitu saja, apalagi mereka yang di kampung belum banyak memiliki barang yang bisa menunjang untuk melakukan semua tahapan yang serba online. Bagi mereka, solusi yang ditawarkan pemerintah hanya menguntungkan sebagian kecil kelompok orang saja. Masyarakat di perkampungan akan hanya mendengar kabar saja, walau ada yang menerima bantuan melalui Kartu Prakerja atau BLT-DD itu tidak akan pernah merata dan terkadang tidak tepat sasaran. Masyarakat yang kelas ekonominya kecil akan tetap menjadi korban yang tak pernah mendapat bantuan.

Baca Juga:  Dr. Jam'an Dorong Guru Kuasai Rancangan Silabus Covid-19

Parahnya lagi, anggapan masyarakat primitif, pandemi ini hanya kabar burung saja. Meskipun dikaji secara akal sehat pandangan itu cenderung keliru. Namun masyarakat yang memiliki idiologi sosilogis-mistik bisa dijadikan pelajaran bagi setiap manusia yang terlalu cemas menghadapi wabah ini. Sebab di kala segala solusi tak mampu mencegah virus Corona menyebar, jalan terakhir adalah terapi kepasrahan pada yang Maha Kuasa.

Ketika melihat warga Jakarta yang saling desak-desakkan mengerumuni rumah-rumah sakit hanya untuk melakukan tes kesehatan, akan itu akan menjadi jaminan tidak akan terjangkit?. Bahkan sekalipun uang mereka keluarkan berjuta-juta lebih hanya untuk mewaspadai virus Corona agar tidak menularinya, tapi bila sudah takdir Tuhan mencabut nyawanya melalui Corona, kita tidak akan bisa apa-apa.

Sesungguhnya kita perlu berikhtiar menjalani hidup ini dan selebihnya berpasrah diri pada Tuhan, termasuk dalam urusan mati dan hidup. Banyak pihak yang sangat kecewa pada kebijakan pemerintah yang mengambil keputusan dalam hal mencegah virus Corona ini menyebar. Karena hingga saat ini korban masih terus berjatuhan, meskipun peringatan-peringatan sudah gencar disampaikan melalui media massa, seperti larangan berdiam diri di rumah, harus menjaga jarak dan wajib memakai masker. Jika ini langkah yang solutif, seharusnya dari hari ke hari korban Corona semakin berkurang.

*) Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) IAIN Madura.