Tarif Listrik PKL yang Dibayarkan ke Oknum di Arek Lancor Pamekasan Tembus Rp150 Ribu

Media Jatim
Arek Lancor
(M. Arif/Media Jatim) Para PKL mangkal di kawasan Arek Lancor, Rabu (6/12/2023).

Pamekasan, mediajatim.com — Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Kota Pamekasan gagal memutus dua kWh tarif R yang diduga ilegal di sisi utara Arek Lancor, Senin (4/12/2023) lalu.

IMG-20240220-WA0010
IMG-20240220-WA0008

Berdasarkan penelusuran mediajatim.com, Rabu (6/12/2023), dua kWh yang seharusnya dipakai untuk rumah tangga tersebut difungsikan untuk umum oleh para Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan monumen Arek Lancor.

Tarif yang dibayar oleh PKL kepada oknum penyedia beragam. Dari Rp75 ribu hingga Rp150 ribu per PKL per bulan.

Baca Juga:  Bengkel Jurnalistik Jadi Pembuka Peringatan HPN 2023 PWI Pamekasan

Salah seorang pedagang yang enggan disebutkan identitasnya menjelaskan bahwa dirinya rutin membayar uang listrik sekitar Rp75 ribu per bulan.

“Rp75 ribu itu saya bayar ke pedagang juga, namanya Tohir, saya tidak tahu, Tohir ini mempunyai kWh atau tidak, intinya menyambung listrik ke dia,” ungkapnya kepada mediajatim.com, Rabu (6/12/2023).

Nominal itu, kata dia, terbilang masih murah dibanding ketika dirinya menyambung listrik ke seseorang bernama Rohman yang bisa tembus Rp150 ribu per bulan.

“Kalau yang Rp150 ribu, itu saya membayar setiap hari Rp5 ribu, meskipun kadang dagangan tidak laku habis, kadang saya pikir kemahalan,” jelasnya.

Baca Juga:  Setelah 3 Kali Sabet Juara Nasional, Santoso Madura Raih Penghargaan Perunggu di Ajang Cipta Puisi

Salah seorang PKL lain yang juga enggan dibeberkan identitasnya mengaku biasa membayar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu setiap malam untuk pemakaian listrik.

“Saya kebetulan agak banyak alat elektroniknya,” ungkapnya kepada mediajatim.com, Rabu (6/12/2023).

Dia mengatakan, bahwa yang bertugas menagih ke PKL untuk pembayaran listrik ini bernama Rohman. “Dan itu rutin dilakukan Setiap malam,” pungkasnya.(rif/ky)