7 Pekerja Proyek Pasar Kolpajung Pamekasan Tak Dibayar, 4 Orang Asal Jateng Kelaparan hingga Minum Air Keran!

Media Jatim
Pasar Kolpajung Pamekasan
(M. Arif/Media Jatim) Pekerja PSN Pasar Kolpajung Pamekasan asal Jateng saat ditemui di lokasi proyek, Selasa (12/9/2023).

Pamekasan, mediajatim.com — Upah tujuh pekerja Proyek Strategis Nasional (PSN) Pasar Kolpajung Pamekasan, Jawa Timur (Jatim), tidak dibayar sejak 8 Agustus 2023 lalu.

Empat dari tujuh orang yang tidak dibayar kerjanya itu adalah warga Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Tiga sisanya adalah warga lokal Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Empat warga Jateng itu yakni warga Desa Grogolan, Kecamatan Karanggede, Boyolali bernama Sugiyanto (48), warga Gentan, Kecamatan Susukan, Semarang, Sungadi (55) dan Suwarno (60), dan terakhir warga Sendang, Kecamatan Karanggede, Boyolali, Ngadimin (55).

Salah seorang pekerja PSN Pasar Kolpajung Pamekasan asal Jateng Suwarno menceritakan, bahwa niat mereka jauh-jauh datang ke Pamekasan ialah untuk mencari rezeki dari PSN senilai Rp81,7 miliar melalui seorang mandor bernama Heri Dahirin.

Namun sayang, niat mulia mereka untuk mencukupi kebutuhan keluarga justru berubah menjadi malapetaka.

Sejak 8 Agutus 2023 hingga 9 September 2023, upah kerja harian mereka Rp110 ribu tidak dibayar.

Suwarno mengaku bukan tidak berupaya bersama tiga orang temannya untuk meminta upah hariannya kepada Heri Dahirin. Namun upaya itu selalu tidak menuai hasil, sampai pun detik ini.

Baca Juga:  Imigrasi Pamekasan Tetap Beri Pelayanan Maksimal bagi Pemohon Paspor selama Ramadan

“Awalnya dijanjiin 30 bari baru mau dibayar, namun hingga saat ini, orangnya (mandor Heri Dahirin, red) tak bisa dihubungi, hampir lima hari ini menghilang tidak tahu ke mana,” ungkapnya kepada awak media, Selasa (12/9/2023).

Selama berada di Kabupaten Pamekasan, Suwarno dan rekan-rekannya hanya bergantung kepada upah kerja hariannya.

Lantaran tidak dibayar, hidup empat orang tersebut tidak terjamin. Mereka makan apabila ada orang yang memberinya makan.

Jika tidak, mereka harus kuat menahan laparnya dengan cara berpuasa hingga ada orang yang memberi mereka makan.

“Alhamdulillah kemarin ada polisi yang memberi nasi, kalau tidak ada, kami mesti sabar tidak makan seharian. Mau ke warung sudah malu sebab utang kian menumpuk,” bebernya.

Lebih dari itu, lanjut Suwarno, saking tidak ada uang, untuk minum saja, dia dan tiga temannya harus minum air keran, sebab, untuk membeli air mineral satu kardus saja mereka tidak mampu.

“Sudah tidak ada lagi uang,” tuturnya.

Salah seorang pekerja asal Desa Trasak, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Mohammad Sakur (40) juga mengalami hal serupa.

Baca Juga:  253 Buku Karya Guru Dipamerkan di Gebyar Literasi 2023 Pamekasan, Kadisdikbud: Menulis untuk Hidup Sepanjang Masa!

Dia mengaku keringatnya di PSN Pasar Kolpajung Pamekasan tidak dibayar selama 41 hari.

“Kalau saya mungkin masih dekat dengan rumah, dan masih bisa mencari jalan rezeki lain, tapi saya kasihan mereka yang berasal dari Jateng, utang di warung banyak tapi tak kunjung dibayar,” ungkapnya kepada mediajatim.com, Selasa (12/9/2023).

Sakur menuturkan, memang ada dua temannya yang sudah dibayar upahnya, namun, itu dengan cara memaksa mandor. “Dengan sangat memaksa,” katanya.

Sementara perwakilan PT. Adhi Persada Gedung (APG) Arif Sulistiono mengaku sudah berupaya membantu para pekerja yang tidak dibayar upahnya selama sebulan tersebut.

“Sebelumnya kami menelepon mandornya, namun, hingga detik ini belum bisa dihubungi, namun hari ini kami akan membantu mereka untuk menyelesaikan persoalan ini,” ungkapnya, Selasa (12/9/2023).

Arif menyebut bahwa uang yang dibawa mandor sekitar Rp19 juta. Jika tidak menemukan titik terang, lanjut Arif, maka akan dilaporkan ke pihak kepolisian.

“Untuk saat ini, kami fokus untuk membantu para pekerja itu untuk bisa segera pulang, dan tentunya kami masih tetap mencari keberadaan mandornya itu,” pungkasnya.(rif/ky)