oleh

Jangan Pernah Menyerah untuk Membuat NU Jaya

MediaJatim.com, Jember-Gonjang-ganjing politik di Jember, bahkan di sebagian banyak daerah di Indonesia, selalu melibatkan NU. Perhelatan politik tanpa melibatkan NU, bagai sayur tanpa garam. Rasanya tawar, tidak enak. Begitu juga Pilkada, tanpa NU terasa kurang greget. Kenapa? Jawabannya jelas: karena warga NU adalah mayoritas.

Namun kondisi tersebut tidak serta merta membuat NU jaya. Dalam sekian kali Pilkada Jember, jago-jago NU selalu terjungkal, kalah. Kekalahan demi kekalahan jago-jago NU dalam perhelatan politik (Pilkada), tercatat jelas dalam kertas sejarah perjalanan Jember.

“Masalahnya karena simpul-simpul NU tidak pernah bersatu, sehingga jama’ah NU juga terbelah,” ujar tokoh NU, Zeinul Hasan di kediamannya, Ahad (21/6/2020).

Baca Juga:  Rauf dan Biya, Pasutri Lansia Pamekasan Ini Bertahan Hidup dengan Jadi Pemulung

Menurut alumnus Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Antirogo, Jember itu, tidak ada yang membatah bahwa NU mempunyai kekuatan politik yang cukup dahsyat. Namun kekuatan itu tidak efektif karena tergerusnya kesadaran simpul-simpul NU untuk bersatu dalam mengusung satu jago NU. Karena tidak bersatu, maka jadi rapuh. Akhirnya NU hanya jadi penonton dari waktu ke waktu.

“Tapi untuk menyatukan simpul-simpul NU juga bukan pekerjaan mudah,” lanjut Gus Zen, sapaan akrabnya.

Walaupun demikian, tidak ada yang mustahil dalam politik. Dalam politik berlaku prinsip: tidak ada lawan abadi atau kawan abadi. Yang ada adalah kepentingan abadi. Jika kepentingannya sama, maka politisi dan simpul-simpul NU bisa disatukan untuk satu kepentingan.

Baca Juga:  Masuk Zona Merah, KMB Minta Pemkab Banyuwangi Segera Tangani Covid-19

“Mudah-mudahan bisa satu barisan. Jangan pernah menyerah untuk membuat NU jaya. Politik itu dinamis,” pungkasnya.

Reporter: Ade Nurwahyudi

Redaktur: Sulaiman