Teller BNI Pamekasan Jadi Korban Pelecehan Atasannya, Ditarik Pakaian Dalamnya hingga Lepas!

Teller BNI Pamekasan
(Dok. Kanalmadura.id) KCP BNI Prenduan, Sumenep.

Pamekasan — EA (22), tidak membayangkan akan bertemu dengan atasannya yang bejat, MS. Saat jam kerja menerima nasabah, Teller BNI Pamekasan yang bertugas di Kantor Cabang Pembantu (KCP) BNI Prenduan itu ditarik kutangnya oleh MS hingga lepas.

Kejadiannya Mei 2022 lalu. Tidak puas menarik paksa pakaian dalam EA, pada Juni 2022, MS juga menarik dan mencium paksa tangan EA berkali-kali, memegang bokong EA saat berdiri melayani nasabah, dan bahkan, juga mencoba mencium area pipi namun berhasil ditepis oleh EA.

iklan

“Beberapa kali saya menegur yang bersangkutan, namun dia justru sedikit mengancam, dia berkata, ‘memang aku gak berani ngapa-ngapain kamu’,” kata EA saat diwawancarai mediajatim.com, Rabu (11/1/2023).

EA mengatakan, kejadian-kejadian itu berlangsung saat dirinya sedang bertugas di kursi Teller KCP BNI Prenduan, Sumenep. MS masuk ke meja teller dan duduk di kursi yang kosong.

“Padahal, tidak boleh masuk ke posisi teller, dan saat itu juga ada nasabah,” tuturnya. Nasabah yang berada di depan mungkin tidak mengetahui itu karena meja teller cukup tinggi.

Baca Juga:  Diduga Lakukan Pencemaran Nama Baik, Gercin Laporkan Pemilik Akun Berinisial UD

Namun, ada CCTV di pojok atas kursi teller. Aksi MS terekam CCTV saat memegang bokong, mencium tangan EA dan mempraktikkan gerakan oral seks saat sedang menggoda EA.

“Saya cuti 21 Juni 2022, karena takut MS berbuat macam-macam ke saya,” bebernya.

Kejadian itu pun dilaporkan oleh EA ke orang tuanya, dan akhirnya terdengar oleh Pimpinan Cabang BNI Pamekasan.

Pada 27 Juni, EA dipanggil ke Kantor Cabang BNI Pamekasan. Pada pemanggilan itu, EA dijanjikan jalan penyelesaian. Namun, tak kunjung ada mediasi penyelesaian antara dirinya dan MS sebagai pelaku.

Pada 11 Juli 2022, EA akhirnya melaporkan dugaan pelecehan dan kekerasan seksual itu ke Polres Sumenep. Lalu pada Agustus 2022, atasannya di BNI, mendesak EA untuk mencabut laporan polisi tersebut.

Desakan itu berbarengan dengan masa penilaian kerja EA selama setahun terakhir. “Atasan saya bilang, kalau laporan polisinya dicabut, nilai saya akan diperbagus dan bisa lanjut kerja, dan kalau tidak, saya harus berhenti,” paparnya.

Nilai kerjanya itu belum sempat dilihat oleh EA. EA tidak tahu apakah nilainya baik atau buruk. Atasannya hanya menunjukkan map yang disebut berisi nilai EA–tidak memberikan nilainya kepada EA.

Baca Juga:  BNI Pamekasan Sebut Tersangka MS Sudah Dijatuhi Sanksi Demosi, Korban: Tidak Sebanding!

“Lalu, atasan saya datang ke rumah dan saya diberhentikan secara lisan di rumah pada September 2022, ID card saya diminta, dan ini janggal bagi saya, karena sampai sekarang tidak ada pemberhentian resmi,” ungkapnya.

Lebih dari itu, EA merasa kecewa. Sebab, alih-alih menindak MS, pihak BNI Pamekasan justru memecatnya sebagai teller.

EA mengaku tidak menyangka, dirinya yang menjadi korban justru diberhentikan hanya karena melaporkan dugaan kekerasan seksual ke pihak kepolisian.

“Sementara MS sampai hari ini masih bekerja di BNI Pamekasan, ini tidak adil, saya lapor polisi mencari keadilan, kenapa saya justru diberhentikan karena lapor polisi?” katanya penuh kecewa.

Dikonfirmasi atas hal itu, Pemimpin Cabang BNI Pamekasan Eri Prihartono mengaku tengah melaksanakan meeting.

Dia menyebut, persoalan MS dan EA ini sudah lama. “Itu sudah basi, itu urusan individu mereka sendiri, dan kita nunggu inkrahnya, akan ada ini, saya lagi meeting,” tukasnya.(*/ky)