Sampang, mediajatim.com — Warga Desa Sejati, Kecamatan Camplong, melakukan audiensi ke DPRD Sampang terkait dugaan ketidakjelasan pemanfaatan Corporate Social Responsibility (CSR) PT Garam di wilayahnya, Senin (18/5/2026).
Pendamping peserta audiensi Syamsuddin mengatakan, audiensi itu dilakukan untuk mempertanyakan penyaluran CSR dan penyerapan tenaga kerja oleh PT Garam.
Pihaknya menilai sejak PT Garam beroperasi sekitar 1995 hingga kini, belum ada kejelasan manfaat CSR bagi warga sekitar.
“Kami datang ke sini untuk mempertanyakan itu, CSR-nya lari ke mana. Mengapa tidak ada manfaatnya sama sekali untuk warga di sana,” katanya.
Syamsuddin menduga hanya sebagian kecil warga setempat yang bekerja di PT Garam. Namun, dirinya belum mengetahui secara pasti persentase tenaga kerja lokal di perusahaan tersebut.
Dalam audiensi itu, lanjut dia, belum ada kejelasan karena PT Garam belum memberikan jawaban pasti terkait persoalan CSR.
“Hasilnya masih buram. Tanggapan dari PT Garam sendiri masih akan dilaporkan ke pimpinannya. Selanjutnya kami tunggu informasi dari mereka,” jelasnya.
Sementara, Manager Hubungan Korporasi PT Garam Wawan Wahyudianto mengatakan, pengelolaan CSR dilakukan secara nasional. Menurutnya, di Kabupaten Sampang penyaluran CSR memang belum merata karena dalam beberapa tahun terakhir perusahaan lebih fokus di Kabupaten Sumenep.
Namun demikian, kata dia, pada tahun ini PT Garam berencana mulai memfokuskan program CSR di Sampang. Dia menjelaskan, CSR dibagi menjadi dua bentuk, yakni permodalan dan pendidikan. Untuk bantuan permodalan, pihaknya masih belum menyalurkan karena ada sejumlah hal yang perlu diselesaikan.
“Sementara untuk pendidikan, kami sudah menyalurkan bantuan ke beberapa sekolah di wilayah itu,” bebernya.
Lebih lanjut, Wawan mengatakan penyerapan tenaga kerja lokal kemungkinan belum diketahui masyarakat secara luas, meski menurutnya sudah banyak warga setempat yang bekerja di PT Garam. Pihaknya pun berjanji akan mengevaluasi persoalan tersebut.
“Untuk tenaga kerja, 80 persen warga lokal, sementara 20 persen lainnya merupakan pekerja lama yang bukan warga lokal,” jelasnya.(wan/jun)












