Damkar Sumenep VS Pompa Air Warga

Rencana awal, judul catatan ini adalah “Pompa Air Warga Selamatkan Damkar Sumenep”. Hanya saja, setelah sok-sokan saya pertimbangkan, judul pertama ini terlalu hiperbola. Khawatir lebih besar pasak daripada tiang.

Kamis (23/12), kebakaran rumah terjadi di Perum Bumi Sumekar Asri, RT 01/ RW 07, Jalan Sultan Abdurrahman, Desa Kolor, Kecamatan Kota, Sumenep.

DLH Pamekasan

Saat saya tiba di lokasi, satu mobil Damkar sudah berjibaku melakukan pemadaman api. Fire hose sudah diarahkan ke sejumlah titik api. Saat itu, mungkin karena terburu-buru, beberapa petugas Damkar mengabaikan keselamatan diri mereka sendiri.

Saya tidak melihat ada petugas yang memakai nomex IIIA, helm face protector dan SCBA. Mayoritas petugas pemadam kebakaran hanya mengenakan kaos, boots safety, pun tanpa sarung tangan.

Pemandangan ini memberi kesan bahwa petugas pemadam tidak mematuhi SOP. Akan tetapi, mungkin saja, skala kebakaran yang terjadi memiliki SOP yang berbeda-beda. Kalau hanya satu rumah, telanjang dadapun mungkin tak apa.

Baca Juga:  Perilaku Media dan Tenaga Ahli Cabup-Cawabup Sumenep

Tak lama, air di tangki Damkar habis. Akan tapi, asap masih mengepul dari balik bubung genteng rumah. Mobil Damkar kedua diharapkan segera datang. Namun ternyata harus sabar menunggu, menahan was-was dan khawatir.

Saat menunggu suplay air dari Damkar kedua, pompa air milik warga seakan ambil alih tugas pemadaman api. Mulanya, (mungkin) seorang petugas pemadam berupaya naik ke atas genteng, membongkar genteng, mengecek titik api yang masih belum padam.

Sejurus kemudian, selang kecil berdiameter 3/4 dilemparkan oleh seorang warga ke atas genteng. Maka, sementara, pompa air wargalah yang menjadi satu-satunya harapan agar api bisa padam. Meskipun itu tidak mungkin.

Melihat selang kecil menyemprotkan air ke titik api, di atas genteng, saya senyum-senyum sendiri. Pemandangan ini di luar dugaan. Hanya karena suplai air tidak cukup, pompa air milik warga pun “turun tangan”, dan itu tampak menggemaskan.

Kita analisa. Kebakaran terjadi di wilayah kecamatan kota. Jarak kantor Damkar dan lokasi kebakaran tak sampai dua kilo jauhnya. Tapi suplai air sudah keteteran. Pertanyaan, jika kebakaran terjadi di daerah yang jauh dari kota, berapa pompa air yang harus disiagakan oleh warga?

Baca Juga:  Jalan Berlubang dan Pak Polisi

Beruntung, saat kejadian, tak ada korban jiwa. Menunggu suplai air dari mobil Damkar, terasa enteng-enteng saja. Namun jika ada nyawa yang dipertaruhkan, apakah air dari mobil Damkar akan dicicil juga?

Saat kebakaran, saya berharap ada sisa air di mobil Damkar yang dibawa pulang. Tapi ternyata, warga, termasuk saya, masih harus waswas karena suplai air tidak segera tiba.

Ke depan, semoga tak ada lagi pompa air warga yang harus jadi pahlawan. Kalau masih ada, bagi saya, ini nyaris keterlaluan. Lagian, kebakaran di wilayah kota, kok suplai air masih ngendat seperti BLT untuk warga? Ayolah.

Ganding,
24 Desember 2021

_____________

Penulis: Nur Khalis, salah satu wartawan muda di Kab. Sumenep, Madura, Jawa Timur.