oleh

Ainul Faiz, Penakluk Lintasan 5 Km Porseni MA Jawa Timur 2019

MediaJatim.com, Bangkalan – Ainul Faiz mampu menorehkan prestasi yang luar biasa dalam perhelatan lomba Lari Marathon di Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Madrasah Aliyah (MA) yang digelar di Kabupaten Bangkalan, Madura, Kamis pagi (7/11/2019).

Pria yang akrab disapa Ainul itu menjadi bagian dari Porseni dengan mewakili Kabupaten Sumenep dalam lomba Lari 5.000 m atau 5 km. Diluar dugaan siswa Madrasah Aliyah Al-Ghazali Rombasan, Pragaan ini berhasil meraih prestasi juara 1.

Menurut penuturan pelatih yang mendampinginya, Ach. Nur Shodik, pihaknya tidak terlalu banyak berharap anak didiknya bisa menjadi yang terbaik. Pasalnya saat latihan, kemampuan Ainul Faiz sudah bisa diukur. Ia hanya menduga maksimal bisa meraih juara 3.

“Saya tidak berharap banyak kepada Ainul, meskipun kami sudah melihat optimistis dari Ainul Faiz. Hal itu kami sudah kelihatan saat uji latihan di jalan menanjak,” tuturnya dengan wajah sumbringah.

Baca Juga:  Petani Sumenep Setubuhi Anak Di Bawah Umur Hingga 5 Kali

Ainul mampu mengalahkan rival-rivalnya yang datang dari setiap kabupaten di Jawa Timur. Ia mamou finish duluan di depan atlet perwakilan kabupaten Jember dan kabupaten Ponorogo.

Ainul Faiz, siswa MA Al-Ghazali, Rombasan, Pragaan, Sumenep saat foto bersama dengan Kepala Kemenag Kabupaten Sumenep dan Pelatih yang mendampinginya pada Porseni MA Jawa Timur 2019, (Foto: Ist).

Si Yatim Sejak Lahir, Tidak Ada Alasan Untuk Tidak Berpretasi

Prestasi ini merupakan kado terindah baginya, sebab Ainul sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikan menengahnya di tahun ini. Ia memang memiliki cita-cita yang sangat mulia bisa membanggakan ibunda tercintanya yang sudah merawat sejak kecil dan menyekolahkannya.

“Alhamdulillah, prestasi ini saya persembahkan untuk ibu yang telah berjuang merawat dan mendidik saya hingga bisa seperti sekarang. Tidak lupa juga, terimakasih banyak untuk semua guru-guru di MA Al-Ghazali yang telah mendukung saya,” kata siswa yang baru menginjak usia 18 tahun tersebut.

Sejak lahir Ainul hanya hidup bersama ibunya. Karena bapaknya sudah meninggal dunia sejak masih dalam kandungan. Namun, kondisi itu tidak lantas membuatnya berkecil hati. Ia meyakini dengan kemampuan yang dimilikinya bisa membahagiakan orangtua yang telah membesarkannya.

Baca Juga:  Dituding Catut Lambang PMII, Loyalis Khofifah Angkat Bicara

Ia dikenal oleh teman-teman dan tetangganya sebagai pemuda sederhana dan pendiam. Meski di bidang akademik tidak menonjol tapi ia pekerja keras. Sesekali sepulang sekolah ia menjadi kernet atau kuli angkut Viar untuk membantu perekonomian ibunya yang sekaligus menjadi ayah baginya.

“Dia sudah hidup dalam serba keterbatasan sejak lahir, ditinggal bapaknya semasa masih dalam kandungan,” kata Ainul Furqon, Kepala Sekolah MA Al-Ghazali.

Kepada Media Jatim, Furqon juga menceritakan kisah sedih Ainul saat melakukan persiapan sebelum berangkat ke kabupaten Bangkalan. Sepatu satu-satunya miliknya rusak saat digunakan untuk latihan.

“Yang membuat ia sempat sedih sepatu satu satunya rusak saat latihan. Guru-guru pun patungan membelikan yang baru. Akhirnya semua terbayar dengan prestasi,” tukasnya bangga.

Reporter: Agus Supriadi

Redaktur: Sulaiman

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *