Sumenep, mediajatim.com — Puluhan pemuda di Warkop Sedulur Kopi Paek (SKP), Jalan Kartini, Nomor 81, Desa Kepanjin, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep tampak tenggelam dalam kesibukannya masing-masing.
Sebagian di antara mereka asyik dengan gawai, sibuk dengan tugas kuliah dan pekerjaan. Pada malam itu, jam menunjukkan pukul 21.43 WIB.
Meski malam telah mulai larut, mata para pengunjung tampak tetap berbinar dengan teguh. Secangkir kopi yang mereka teguk mengusir kantuk dan terus menjahit semangat untuk beraktivitas.
Kopi hitam pekat yang menemani para pengunjung bergadang itu diracik oleh barista berusia 20 tahun, A. Majdi Alawi.
Pemuda yang akrab disapa Adit itu begitu fasih menyeduh kopi. Tubuhnya memang ramping, tapi ingatannya bernas menghafal semua rumus racikan kopi.
“Saya baru empat bulan kerja di sini. Di awal ya agak susah (meracik kopi, red.). Tapi ketika sudah tiga sampai empat hari, saya sudah bisa meracik dan menakar kopi dengan baik,” ucap pemuda asal Desa Braji, Kecamatan Gapura itu, Minggu (28/6/2026) malam.
Berkarya Lewat Secangkir Kopi
Hampir setiap malam, Adit berkarya lewat secangkir kopi. Pelanggan demi pelanggan dibuat candu oleh kopi pekatnya. Sehingga tidak heran Warkop tempatnya bekerja selalu penuh penikmat kopi.
Namun demikian, menjadi barista bukanlah hal mudah. Karena tugasnya harus meracik kopi yang sesuai dengan lidah pelanggan.
Bagian tersulit sebagai barista, kata Adit, saat menyesuaikan takaran dengan permintaan pelanggan.
“Kopi pahit, standar dan manis ada takarannya masing-masing. Jadi, untuk mengantisipasi kesalahan itu kami tanyakan dulu ke pelanggan,” ujarnya.
Salah satu tantangan terbesar menjadi barista, lanjut Adit, saat pelanggan marah karena kopi yang disuguhkan tidak sesuai pesanan.
“Tapi yang namanya pelanggan kan tetap raja. Jadi, saya minta maaf dan tetap melayani dengan baik. Ibaratnya mereka api dan kita harus bisa menjadi air untuk meredamnya,” ujarnya.
Adit sadar bahwa setiap pekerjaan tidak semuanya manis. Termasuk menjadi seorang barista, pasti ada sisi-sisi pahitnya.
Ringankan Beban Orang Tua
Di tengah berbagai tantangan di lingkungan kerjanya, Adit tetap tegar menekuni profesinya. Dia harus tetap bekerja agar bisa meringankan beban orang tuanya.
Selain sebagai barista, sehari-hari Adit juga seorang mahasiswa di Prodi Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Bahauddin Mudhary (UNIBA) Madura.
“Sejak saya kuliah, ayah pensiun sebagai ASN dan ibu sudah sakit-sakitan. Jadi, agar tidak memberatkan orang tua saya kuliah sambil kerja,” imbuhnya.
Adit mengaku tak pernah gengsi kuliah sambil kerja. “Saya bekerja kan untuk meringankan beban orang tua. Jadi, saya enggak gengsi dengan usaha dan hasil pencapaian saya sendiri. Orang yang gengsi belum tentu bisa melakukan apa yang kita lakukan,” tuturnya.
Sejak kecil, Adit mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi barista. Dia menjalani profesi tersebut semata-mata untuk mencari pengalaman dan penghasilan.
“Dari awal saya memang tidak pernah pilih-pilih pekerjaan. Asal bisa kerja dan dapat gaji yang memuaskan, bagi saya sudah cukup,” tambahnya.
Sebelum menjadi barista, Adit bekerja sebagai koki di salah satu kedai nasi goreng. “Tapi, karena hanya freelance dan jadwal mata kuliah semakin padat pada semester empat, saya berhenti,” ujarnya.
Meski sambil bekerja, Adit tetap fokus pada perkuliahan. Dia memanfaatkan waktu luang di pekerjaannya untuk belajar dan menyelesaikan tugas dari dosennya.
“Jadi, tergantung bagaimana cara kita mengatur waktu saja. Kadang, meski tidak kerja dan bisa mengatur waktu, kalau orangnya malas belajar atau kuliah, kan, percuma juga,” pungkasnya.(man/faj)















