Sumenep, mediajatim.com – Pengendara motor berseliweran di depan SDN 1 Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Kamis (23/7/2026) pada pukul 09.27 WIB.
Di balik pagar sekolah, jauh dari deru knalpot kendaraan di jalan, para siswa tampak asyik bersanda gurau menikmati jam istirahat.
Di ruang guru sekolah, media ini menemui salah satu guru, Iin Handayani. Perempuan asal Desa Jambu, Kecamatan Lenteng tersebut menjadi tenaga pengajar di SDN 1 Lenteng Timur sejak 2013.
Setiap hari, dengan motor Honda Astrea Legend, ia menempuh jarak tiga kilometer untuk tiba ke sekolah.
Dia bercerita bahwa motivasinya mengajar untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
“Motivasi saya mengajar dan mengabdi sebagai guru untuk membahagiakan orang tua. Karena, saya kuliah dibiayai orang tua. Jadi, saya sabar meski kondisi ekonomi sulit demi kebahagiaan orang tua,” ungkapnya, Kamis (23/7/2026).
Ibu dua anak itu juga menerangkan bahwa pertama kali ia mengajar di SDN 1 Lenteng Timur hanya digaji Rp100 ribu per bulan.
Tentu saja, lanjut Iin, gaji mengajar tersebut tidak cukup membiayai seluruh kebutuhannya sehari-hari.
Oleh karena itu, untuk terus menyambung hidup, Iin sambil lalu berjualan es manis dan camilan ke musala-musala di sekitar rumahnya.
“Tapi usaha itu penghasilannya juga sedikit dan sebenarnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akhirnya, sesekali saya harus berutang,” bebernya.
Kondisi ekonomi yang sulit itu, tidak membuat Iin menyerah apalagi berhenti mengajar.
Demi hidup yang lebih sejahtera, Iin mengaku berkali-kali mengadu nasib dengan ikut seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).
“Sayangnya tidak pernah lulus. Tentu saya kecewa, hampir stres dan bahkan hampir mau berhenti mengajar saja. Tapi, saya urungkan karena selalu ingat ke orang tua,” ujarnya.
Pada 2025 lalu, Tuhan mengabulkan doa Iin untuk hidup lebih sejahtera. Dia terpilih sebagai guru sertifikasi pada 10 September 2025 dan PPPK Paruh Waktu (PW) pada 1 Oktober 2025.
“Saya tentu senang dan bahagia meski hanya PPPK PW. Karena berpotensi untuk diangkat sebagai penuh waktu. Dan alhamdulillah dari gaji sertifikasi dan PPPK PW itu lumayan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga,” paparnya.
Lebih lanjut Iin menerangkan, status guru sertifikasi dan PPPK PW sangat berpengaruh terhadap semangat mengajar.
“Semenjak ditetapkan, saya semakin semangat mengajar karena sudah disumpah oleh bupati dan mendapat gaji dari pemerintah. Hal ini menjadi beban moral bagi saya sebagai guru,” tegasnya.
Dirinya berharap, pemerintah segera menetapkan dirinya sebagai PPPK Penuh Waktu agar kinerjanya di sekolah semakin meningkat.
“Saya sudah belasan tahun mengajar dan berharap segera ditetapkan sebagai penuh waktu sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada guru yang sudah berdedikasi mencerdaskan bangsa,” pungkasnya.(man/faj)






















