IMG-20260712-WA0014
IMG-20260712-WA0021

Jualan Es demi Tetap Mengajar, Kisah PPPK Paruh Waktu di Sumenep Menyambung Hidup

Avatar photo
PPPK
(Ikhwan Fajarisman/Media Jatim) Iin Handayani (berdiri) saat mengajar di Kelas 4 B SDN 1 Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Kamis (23/7/2026).

Sumenep, mediajatim.com – Pengendara motor berseliweran di depan SDN 1 Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Kamis (23/7/2026) pada pukul 09.27 WIB.

2_20260722_160957_0001
6_20260722_160957_0005
4_20260722_160957_0003
Salinan dari Display 17 Agustus _20260723_110227_0000

Di balik pagar sekolah, jauh dari deru knalpot kendaraan di jalan, para siswa tampak asyik bersanda gurau menikmati jam istirahat.

3_20260722_160957_0002
1_20260722_160957_0000
5_20260722_160957_0004

Di ruang guru sekolah, media ini menemui salah satu guru, Iin Handayani. Perempuan asal Desa Jambu, Kecamatan Lenteng tersebut menjadi tenaga pengajar di SDN 1 Lenteng Timur sejak 2013.

Setiap hari, dengan motor Honda Astrea Legend, ia menempuh jarak tiga kilometer untuk tiba ke sekolah.

Dia bercerita bahwa motivasinya mengajar untuk membahagiakan kedua orang tuanya.

“Motivasi saya mengajar dan mengabdi sebagai guru untuk membahagiakan orang tua. Karena, saya kuliah dibiayai orang tua. Jadi, saya sabar meski kondisi ekonomi sulit demi kebahagiaan orang tua,” ungkapnya, Kamis (23/7/2026).

Baca Juga:  Bupati Sampang Kembali Resmikan Dapur Makan Bergizi Gratis di Jrengik, 30 Telah Berjalan dari Target 93

Ibu dua anak itu juga menerangkan bahwa pertama kali ia mengajar di SDN 1 Lenteng Timur hanya digaji Rp100 ribu per bulan.

Tentu saja, lanjut Iin, gaji mengajar tersebut tidak cukup membiayai seluruh kebutuhannya sehari-hari.

Oleh karena itu, untuk terus menyambung hidup, Iin sambil lalu berjualan es manis dan camilan ke musala-musala di sekitar rumahnya.

“Tapi usaha itu penghasilannya juga sedikit dan sebenarnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akhirnya, sesekali saya harus berutang,” bebernya.

DOTA Dream of Tropical Asia
Chickenn Maryland
7.7 Front One Sale
De' Majestic
IMG-20260712-WA0020
IMG-20260712-WA0022

Kondisi ekonomi yang sulit itu, tidak membuat Iin menyerah apalagi berhenti mengajar.

Demi hidup yang lebih sejahtera, Iin mengaku berkali-kali mengadu nasib dengan ikut seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

“Sayangnya tidak pernah lulus. Tentu saya kecewa, hampir stres dan bahkan hampir mau berhenti mengajar saja. Tapi, saya urungkan karena selalu ingat ke orang tua,” ujarnya.

Baca Juga:  Ciptakan Keluarga Tangguh, KUA Pragaan Gelar Bimbingan Pra Nikah

Pada 2025 lalu, Tuhan mengabulkan doa Iin untuk hidup lebih sejahtera. Dia terpilih sebagai guru sertifikasi pada 10 September 2025 dan PPPK Paruh Waktu (PW) pada 1 Oktober 2025.

“Saya tentu senang dan bahagia meski hanya PPPK PW. Karena berpotensi untuk diangkat sebagai penuh waktu. Dan alhamdulillah dari gaji sertifikasi dan PPPK PW itu lumayan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga,” paparnya.

Lebih lanjut Iin menerangkan, status guru sertifikasi dan PPPK PW sangat berpengaruh terhadap semangat mengajar.

“Semenjak ditetapkan, saya semakin semangat mengajar karena sudah disumpah oleh bupati dan mendapat gaji dari pemerintah. Hal ini menjadi beban moral bagi saya sebagai guru,” tegasnya.

Dirinya berharap, pemerintah segera menetapkan dirinya sebagai PPPK Penuh Waktu agar kinerjanya di sekolah semakin meningkat.

“Saya sudah belasan tahun mengajar dan berharap segera ditetapkan sebagai penuh waktu sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada guru yang sudah berdedikasi mencerdaskan bangsa,” pungkasnya.(man/faj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *