Sumenep, mediajatim.com — Antrean panjang kendaraan roda dua terjadi di sejumlah SPBU di wilayah Sumenep sejak Jumat (31/7/2026) lalu.
Salah seorang pengendara roda dua asal Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi Muhammad Fajar mengatakan, antrean pengisian BBM mengakibatkan pulang terlambat.
“Biasanya sebelum Magrib saya sudah tiba di rumah. Tapi, karena antreannya panjang, saya bisa sampai menjelang Isya untuk tiba di rumah,” ucapnya.
Fajar menyebut antrean panjang terjadi pada akhir dan awal bulan. “Seperti bulan lalu, antrean panjang terjadi pada akhir dan awal bulan dan semoga tidak terjadi lagi bulan ini, karena memperlambat aktivitas masyarakat,” tuturnya.
Manajer Operasional SPBU 54.694.03, Kecamatan Batuan Ainul Ghufron mengatakan antrean panjang di sejumlah SPBU tidak disebabkan kelangkaan BBM jenis Pertalite.
“Sebenarnya bukan langka. Kalau langka, pasti tidak ada pengiriman dari Pertamina kepada SPBU. Pertamina hanya membatasi pengiriman ke SPBU,” ucapnya, Selasan(4/8/2026).
Pria yang akrab dipanggil Inung itu menjelaskan bahwa Pertamina membatasi pengiriman BBM, barangkali karena beberapa faktor, salah satunya perang yang terjadi antara Israel dan Iran.
“Atau bisa jadi juga karena pelaporan SPBU kepada Pertamina terkait stok awal dan akhir bulan serta penerimaan dan penyaluran BBM di SPBU ke Pertamina,” ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, kemungkinan antrean tersebut juga disebabkan pengecer dilarang membeli ke SPBU. “Jadi berdasarkan aturan dari Pertamina, SPBU menjadi penyalur terakhir BBM kepada masyarakat,” jelasnya.
Dia juga menyampaikan, antrean tersebut mungkin juga disebabkan kendaraan roda dua diharuskan menggunakan barcode untuk mengisi BBM.
“Untuk roda dua itu barcode umum. Sedangkan mobil barcode pribadi. Jadi, proses pengisian BBM di SPBU menjadi agak lama,” terangnya.
Inung menegaskan tidak mungkin menimbun BBM sebab hanya menimbulkan kerugian. “Buat apa menimbun. Lebih baik kan dijual,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Bagian SDA dan Perekonomian Setda Sumenep Dadang Dedy Iskandar mengatakan Pertamina menata ulang kuota pengiriman BBM sejak Juli 2026.
“Tujuannya, agar stok BBM aman hingga akhir tahun. Antrean panjang ini disebabkan peralihan dari Pertalite ke Pertamax,” ungkapnya.
Dadang menjelaskan pemberlakuan barcode untuk setiap transaksi kendaraan roda dua yang diisi oleh petugas SPBU.
“Barcode dilakukan oleh petugas sendiri untuk memastikan utamanya penyaluran BBM subsidi tepat sasaran,” pungkasnya.(man/rif)















