IMG-20260712-WA0014
IMG-20260712-WA0021

Mengajar dengan Hati, Pengabdian Alfi untuk Anak-Anak Berkebutuhan Khusus di SLB Negeri Sampang

Avatar photo
Guru
(Wawan Handika/Media Jatim) Guru SLB Negeri Sampang Alfiana Firdausi saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (15/7/2026).

Sampang, mediajatim.com — Matahari siang menyinari halaman Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Sampang, Rabu (15/7/2026). Suasana sekolah tampak lengang karena hanya dua siswi yang terlihat duduk di dekat gerbang, berbincang pelan.

RSUD Ketapang Dikabarkan Akan Merumahkan Sejumlah Pegawai, DPRD Sampang Min_20260714_111746_0000

Tidak terdengar riuh suara anak-anak seperti sekolah pada umumnya di sekolah itu. Kepada dua siswi yang berada di dekat pintu gerbang, media ini bertanya mengapa sekolah terlihat begitu sepi.

“Sudah pulang,” jawab mereka singkat saat jam menunjukkan pukul 12.00 WIB.

Hari itu para siswa baru saja menyelesaikan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Lalu, salah satu guru keluar menyambut kedatangan media ini dengan senyum ramah dan mempersilahkan masuk.

Dia bernama Alfiana Firdausi, perempuan berusia 29 tahun yang sehari-hari mengabdikan dirinya sebagai guru di SLB Negeri Sampang.

Dari ruangan sederhana tempat kami mengobrol, dia setiap hari menyiapkan masa depan anak-anak berkebutuhan khusus.

Perempuan yang akrab disapa Alfi itu mulai bercerita tentang perjalanan pengabdiannya. Dia mengajar di SLB Negeri Sampang sejak 2023 setelah sebelumnya bertugas di SLB Negeri sejak 2022.

Menurut Alfi, empat tahun menjadi guru SLB telah mengubah banyak hal dalam hidupnya. Setiap pagi, dia tidak hanya menyapa murid-muridnya dengan ucapan.

Tetapi juga dengan senyum, tatapan mata, hingga gerakan tangan menjadi bahasa yang sama pentingnya. Di sekolah itu, bahasa isyarat bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan yang menghubungkan hati seorang guru dengan murid-muridnya.

Baca Juga:  Kepsek dan Guru Selingkuh di Sumenep Tak Kunjung Disanksi, Disdik: Keduanya Juga Masih Digaji Full!

“Cara mereka belajar itu bukan hanya di dalam kelas, melainkan dimulai dari luar kelas. Kami menggunakan bahasa isyarat,” katanya.

Baginya, setiap anak memiliki cara berbeda untuk memahami dunia. Karena itu, cara mengajar kepada para muridnya pun tidak bisa disamakan.

Kini dia mengajar siswa kelas III hingga VI dengan karakter dan kebutuhan yang beragam. Tidak ada satu metode yang bisa diterapkan kepada semua anak. Kesabaran menjadi pelajaran pertama yang harus dimiliki seorang guru SLB.

Alumni Universitas Negeri Surabaya (UNESA) itu mengatakan, mendidik anak berkebutuhan khusus membutuhkan pendekatan yang jauh lebih personal.

DOTA Dream of Tropical Asia
Chickenn Maryland
7.7 Front One Sale
De' Majestic
IMG-20260712-WA0020
IMG-20260712-WA0022

“Cara kami berkomunikasi dengan mereka harus menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa,” jelasnya.

Selama ini dia, mendampingi anak-anak belajar, mengenal huruf, berhitung, hingga melatih kemandirian. Namun, baginya yang paling berharga dari rutinitasnya bukanlah hanya tentang keberhasilan akademik siswa.

Dia justru menemukan kebahagiaan yang sulit dijelaskan setiap kali bertemu murid-muridnya. Senyum polos mereka seolah mampu menghapus segala persoalan yang dia bawa dari rumah.

Menjadi guru SLB, menurutnya, bukan hanya soal mengajarkan membaca, menulis, atau berhitung. Lebih dari itu, dia ingin membantu setiap anak menemukan kemampuan terbaik yang mereka miliki, meski memiliki keterbatasan.

Baca Juga:  Menuju Pembangunan Pelabuhan Socah dan Tanjung Bulupandan, Pemkab Bangkalan Tunggu Evaluasi Trase Study Pemprov

Kata dia, awalnya dia sama sekali tidak bercita-cita menjadi guru di sekolah luar biasa. Namun, saran orang tua membawanya menapaki jalan yang kini justru menjadi panggilan hati.

“Dulu tidak ada niat mengajar di SLB, tapi atas dorongan orang tua akhirnya bisa seperti sekarang. Alhamdulillah, sekarang saya sangat menikmati. Saya senang sekali berada di sini,” tuturnya.

Dia juga merasa banyam menerima keberkahan di balik pengabdiannya. Dia mengaku lebih mudah mensyukuri hidup sejak mendampingi anak-anak disabilitas. Bahkan, dia merasa banyak urusannya dipermudah melalui jalan yang tidak pernah disangka-sangka.

Guru yang ramah itu menyampaikan, SLB Negeri Sampang sendiri terus berupaya memberikan pelayanan pendidikan terbaik. Berbagai media pembelajaran telah disediakan agar proses belajar mengajar berjalan optimal.

Meski demikian, dia menyadari tantangan masih ada. Saat musim hujan tiba, lingkungan sekolah kerap tergenang banjir meski air tidak sampai masuk ke dalam kelas.

Saat ini jumlah siswa di SLB Negeri Sampang mencapai sekitar 70 orang dan diperkirakan akan terus bertambah seiring berlangsungnya penerimaan peserta didik baru.

Menurutnya, pendidikan anak berkebutuhan khusus tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah. Peran keluarga menjadi fondasi utama yang menentukan perkembangan mereka.

“Orang tua harus berperan dalam mendidik anak karena orang tualah yang paling banyak mendampingi mereka setiap hari,” terangnya.(wan/jun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *